Legenda Si Mardan, Malin Kundang Versi Batak

 


Kamu tentu sudah pernah mendengar legenda Malin Kundang bukan? Namun, pernahkah kamu mendengar legenda yang berasal dari Tanah Tapanuli Selatan ini?

Legenda Si Mardan ini berkisah tentang seorang anak muda yang mengadu nasib ke kampung orang, karena kegigihannya pemuda tersebut berhasil mencapai kesuksesan yang Ia harapkan. Namun sayangnya, kesuksesan tersebut membuat pemuda tersebut menjadi sombong dan tidak mengakui Ibu kandungnya.

Bagaimana, ingin tahu cerita selengkapnya? Yuk simak ulasan berikut.

Legenda Si Mardan

Pada suatu hari, di sebuah Desa, terdapat sebuah keluarga yang hidupnya sangat sederhana, bahkan bisa dikatakan kekurangan. Keluarga ini memiliki dua orang anak, Mardan merupakan anak paling besar di keluarga tersebut. Pada suatu ketika ayah Mardan meninggal dunia dan tinggallah Mardan, ibu, dan adiknya.

 Suatu hari di tidur panjangnnya, Mardan bermimpi pergi ke suatu tempat dimana di tempat itu Mardan menemukan Harta Karun. Namun, ketika Mardan terbangun dan menyadari Dia hanya bermimpi, timbullah rasa ingin Mardan untuk pergi ke tempat yang ada di mimpinya tersebut.

Tepat di hari yang Tepat, Mardan mengutarakan keinginnanya untuk pergi merantau kepada ibunya, dengan rasa berat Hati, Ibu Mardan akhirnya mengizinkan Mardan untuk pergi merantau. Singkat cerita, akhirnya Mardan pergi merantau dan meninggalkan Ibu serta kampung halamannya.

Tibalah Mardan di Tempat perantaunnya, di tempat tersebut Mardan memulai kesuksesannya, hingga akhirnya Ia bisa sukses dan menjadi Orang Kaya yang terpandang di tempat Ia merantau. Di masa kesuksesannya ini Mardan mulai membangun keluarga kecilnya, sampai Ia di pertemukan dengan seorang Putri Raja yang membuat Mardan lebih Terpandang lagi.

Pada suatu ketika Istri dari Mardan meminta kepadannya agar pergi berkunjung ke kampung halaman tempat Mardan berasal untuk menemui Ibunya. Dengan berat hati, akhirnya Mardan menuruti permintaan dari Istrinnya tersebut.

Setibanya di kampung halaman, Mardan mulai berjalan ke arah kediaman orang tuannya, sampai akhirnya Mardan dan Istri bisa bertemu dengan Ibu Mardan. Namun sungguh disayangkan, Mardan Tidak mengakui Ibunya sendiri yang telah membesarkannya, ini karena Mardan merasa malu atau termakan ucapannya sendiri ke pada raja, orang tua istrinnya.

 Mendengar hal tersebut, ibu Mardan merasa sangat Sedih dan terus menangis, karna Anak yang begitu Ia sayangi tidak menggapnya sebagai Ibu. Di tangisannya, Ibu Mardan lalu Berucap sembari memegang Dadanya :

''Kalau dia adalah anakku, tunjukkanlah kebesaran-Mu” ucap Ibu Mardan

Di balik Ucapan itu, datang lah angin kencang yang disertai ombak dari laut yang menenggelamkan kapal yang di bawa oleh rombongan Mardan dan Istri, Tidak sampai disitu, kampung halaman dan Mardan pun juga ikut tenggelam di telan ombak.

Hingga jadilah ''PULAU si MARDAN''

Sementara Istri dan Pengikut Mardan berubah menjadi Kera Putih dan Mendiami Pulau Si Mardan sampai sekarang.

Tamat.

Pesan Moral :

1. Ingatlah apa yang kita pernah alami, bukankah hari esok berawal dari hari ini?

2. Hormatilah ayah dan ibu mu, karena merekalah yang telah menjaga dan membesarkan kamu dengan susah payah.

3. Jangan suka berbohong, karena sebuah kebohongan tak jarang akan membawa kebohongan lain untuk menutupi kebohongan tersebut.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dongeng "si Kancil dan Buaya"

Dongeng Anak : Kisah Keledai Bertelinga Panjang

Ciri-ciri Dongeng