Cerita Dongeng “Gagak dan Bangau”


Hai Bunda-Bunda, ketemu lagi dengan cerita dongeng anak. Biasanya Bunda-Bunda menceritakan sebuah dongeng untuk anak pada pagi hari, siang hari, atau malam hari sebagai dongeng sebelum tidur?


Mau kapanpun itu, semua sama-sama mendatangkan kebaikan bagi perkembangan si anak, baik secara fisik maupun mental.


Bunda-Bunda tahu tidak, sering membacakan cerita dongeng ke buah hati salah satu cara mendidik anak menuju prasekolah.


Karena setiap dongeng memiliki nilai moral yang sejak dini sudah harus diajarkan kepada buah hati tercinta. Cerita dongeng identik dengan cerita dongeng pendek dan tidak berbelit-belit. Itu dilakukan karena pola pikir anak yang masih sederhana, dan masih mengendalkan imajinasinya.


Manfaat lain dari membacakan dongeng pendek anak, yaitu menanamkan kebaikan pada diri mereka, meningkatkan keterampilan mendengar dan berkomunikasi, membantu mempertajam memori, melatih fokus, dan menambah pemahaman budaya.


Kali ini kita akan membacakan cerita dongeng “Gagak dan Bangau” untuk buah hati Bunda-Bunda. Selamat bercerita.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Gagak dan Bangau

Alkisah, di sebuah hutan yang luas, seekor gajah dan kelinci sedang mengumpulkan buah jeruk. Namun, gajah mempermainkan kelinci sejenak dengan melempar-lemparkan jeruk ke atas agar kelinci kesusahan meraihnya.


Hal yang tidak diharapkan terjadi. Gajah terpeleset dan buah jeruk paling besar terlempar sangat tinggi menjangkau langit. Beruntungnya, sepasang sahabat, yaitu burung gagak dan burung bangau sedang berterbangan mendekat ke arah gajah dan kelinci. 


Burung gagak dengan tubuhnya yang berbulu putih bersih menangkap dengan cepat buah jeruk yang berukuran sangat besar itu. Bersama bangau, mereka mendekat ke arah gajah dan kelinci.


“Wah terima kasih, Gagak. Kau memang tidak hanya rupawan dengan tubuh putih bersih itu, tapi kau juga baik hati,” ucap kelinci sambil terpesona oleh kecantikan burung gagak.


“Benar, baru kali ini, aku melihat burung gagak secantik dirimu,” timbal gajah.


“Apa rahasianya?” Kelinci yang merasa bulunya tidak sebersih gagak, bertanya dengan nada penasaran.


“Ada, hanya aku yang tahu.” Gagak menanggapi dengan tetap menjaga rahasianya.


Setelah bercengkrama sesaat, gagak dan bangau segera menuju sungai. Di sana, keduanya menangkap beberapa ekor ikan yang siap disantap sebagai makan malam.


“Ah bulu-buluku jadi tampak sedikit kotor,” keluhan gagak membuat bangau tersenyum miris.


“Bulumu masih jauh lebih bersih daripada aku.” Perkataan bangau membuat gagak menyadari kesalahannya yang menyebabkan bangau bersedih.


“Kau mau tahu rahasia bulu bersih ini?” Dengan senang hati, gagak menawarkan rahasia yang membuat bulu-bulunya tampah putih bersinar,


“Bolehkah aku tahu?”


“Tentu saja, ayo kita pulang!”


Sesampainya dirumah gagak, ia memberikan semangkuk ramuan khusus kepada bangau. Gagak juga membantu melumurkan ramuan di sekujur tubuh bangau. Beberapa menit berlalu, tubuh bangau tampak mulai berubah keputihan.



“Waw, bulu hitamku bisa putih secepat ini,” ucap bangau takjub.


“Iya, simpanlah ramuan ini selama dua hari. Kamu harus terus mengenakannya sebelum tidur, ya. Setelah itu kembalikan kepadaku.”


Bangau mengangguk patuh. Ia berjalan ke rumahnya dengan senang.


Dua hari telah berlalu, bulu bangau benar-benar seputih gagak. Gajah dan kelinci juga memuji penampilan barunya itu.


“Kau menjadi hampir secantik gagak, Bangau.” Sayangnya, pujian dari gajah membuat bangau merasa ia harus menyaingi sahabatnya sendiri. Bangau berubah licik dan mengolah ramuan menjadi warna hitam.


Saat gagak menuju ke rumahnya, bangau yang bersembunyi di balik pintu langsung menyiram ramuan itu ke sekujur tubuh sahabatnya. Dalam sekejap, tubuh putih bersih gagak menjadi hitam.


“Kenapa kau melakukan ini, Sahabatku?” tanya gagak sambil menahan tangis.


“Hanya aku yang boleh putih di sini.” Bangau benar-benar berkhianat. Gagak berlari pulang ke rumah dengan isakan yang memilukan. Kancil yang tidak sengaja melihat gagak, menyusul burung itu dari belakang.


“Hei, Gagak. Tidak ada masalahnya dengan warna tubuhmu, kecantikan yang sebenarnya berasal dari kebaikan hati.” Ucapan kancil menyadarkan gagak bahwa ia memang seharusnya lebih mengutamakan kebaikan hati daripada kecantikan penampilan. 


Gagak akhirnya memutuskan pindah ke hutan di sisi utara. Di sana, ia hidup bahagia bersama kancil yang menjadi sahabat terbaiknya menggantikan bangau.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dari cerita dongeng diatas, kita dapat menarik kesimpulan kisah Gagak dan Bangau, pesan moral berdasarkan unsur-unsur prosa yang terdapat pada cerita tersebut, sebagai berikut:


1. Tema: Iri dengki

2. Latar: Hutan yang luas, sungai, rumah gagak, siang, dan malam

3. Penokohan: Gagak, Bangau, Gajah, Kelinci dan Kancil

4. Sudut Pandang: Orang Ketiga

5. Amanat Dongeng pendek anak “Gagak dan Bangau”: Pentingnya kesetiakawanan, tidak boleh iri dan kecantikan bukan berasal dari paras wajah saja, melainkan dari hati juga.


Nah Bunda-Bunda, sekian dulu cerita dongeng anak kali ini. Nantikan Cerita Dongeng yang lebih menarik lagi, serta unsur-unsur prosa yang terdapat pada cerita dongeng pendek anak selanjutnya. Sampai ketemu!!!

Komentar

  1. cerita dongeng ini cocok untuk diceritakan untuk kepada anak - anak kecil. biar gak bandel nantinya

    BalasHapus
  2. makanya kita gk boleh cemburuan sama orang lain

    BalasHapus
  3. bagus banget pesan-pesannya

    BalasHapus
  4. enak nih sebelum tdr di dongengin

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dongeng "si Kancil dan Buaya"

Ciri-ciri Dongeng

TIMUN MAS DAN RAKSASA