Dongeng Nusantara: Legenda Putri Mandalika

 


Kegiatan membacakan dongeng kepada sang buah hati telah menjadi kebiasaan umum yang dilakukan oleh orangtua pada anak menjelang tidur. Selain dapat membuat anak menjadi lebih tenang dan tidur tepat waktu, membaca dongeng juga memiliki banyak manfaat baik untuk anak.

Seperti, mengajarkan nilai moral kepada anak dengan cara yang menyenangkan hingga memperkenalkan anak cerita-cerita nusantara, yang kini sudah mulai terlupakan seiring berkembangnya zaman.

Dongeng nusantara kali ini adalah Legenda Putri Mandalika, legenda yang berasal dari Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Legenda ini berkaitan dengan tradisi menangkap cacing laut yang dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai jelmaan dari Putri Mandalika.

Legenda Putri Mandalika

Alkisah, Pada zaman dahulu kala ada kerajaan yang bernama kerajaan “Sekar Kuning” dari Negeri Tonjeng Beru. Kerajaan Sekar Kuning dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raden Panji Kusuma, yang terkenal dengan sebutan nama Raja Tonjeng Beru dan permaisurinya bernama Dewi Seranting.

Raja Raden Panji Kusuma atau dikenal dengan sebutan Raja Tonjeng Beru adalah raja yang arif bijaksana rakyatnya hidup makmur, sejahtera. Kerajaan tersebut sangatlah tentram dengan rakyat yang juga makmur. Suatu hari Ratu Dewi Seranting, melahirkan seorang anak yang berparas cantik dan diberi nama Putri Mandalika.

Putri Mandalika tumbuh menjadi gadis yang sopan, santun, ramah, lembut. Bila berpapasan dengan rakyatnya putri selalu menyapa dengan ramah dan santun. Keluhuran jiwanya, kemurahan hatinya dan kecantikannya membuat Putri sangat disayangi oleh semua rakyatnya.

Berita tentang kebaikan hatinya dan cantik parasnya pun tersebar hingga keberbagai kerajaan sehingga pangeran–pangeran dari berbagai kerajaan menginginkan Putri Mandalika untuk dipersunting dan akan dijadikan sebagai permaisuri di kerajaannya.

Karena banyak yang melamar Putri Mandalika, akhirnya sang Raja menyerahkan keputusan tersebut kepada sang Putri sendiri. Setelah itu, Putri Mandalika memutuskan bersemedi untuk mencari petunjuk dari apa yang terjadi.

Sepulangnya bersemedi, Putri Mandalika mengundang seluruh pangeran dan pemuda pada tanggal ke 20 bulan ke 10 pada penanggalan sasak (masyarakat yang mendiami pulau Lombok disebut sebagai masyarakat suku sasak). Putri mengundang semuanya untuk berkumpul di pantai Seger (dekat Pantai Kuta, Lombok) pada waktu pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang.

Pada tanggal dan tempat yang telah diputuskan oleh Putri Mandalika, berkumpullah seluruh pangeran, pemuda dah bahkan rakyat kerajaan tersebut. Mereka terlihat memadati pantai Seger. Seketika matahari mulai terbit, Putri Mandalika beserta Raja, Ratu, dan para pengawalnya datang menemui seluruh undangan.

Pada waktu itu Putri Mandalika terlihat sangat cantik dibalut dengan busana indah yang terbuat dari sutera. Putri Mandalika beserta pengawalnya naik ke atas bukit Seger dan mengucapkan beberapa patah kata yang ditujukkan oleh seluruh tamu undangan.

Isi ungkapan Putri Mandalika kurang lebih berisi bahwa Putri Mandalika hanya ingin melihat ketentraman dan kedamaian di pulau Lombok tanpa adanya sedikitpun perpecahan di dalamnya. Sang Putri menyadari jika ia menerima satu atau sebagian lamaran akan terjadi perpecahan atau perselisihan diantara mereka yang tidak ia terima.

Untuk itu sang Putri berencana menerima semua lamaran yang ditujukan kepadanya. Serentak seluruh tamu undangan yang terdapat di pantai tersebut bingung dengan perkataan Putri Mandalika. Kemudian tiba-tiba sang Putri menjatuhkan dirinya ke dalam laut dan seketika hanyut di telan ombak.

Para rakyat dengan sigap menceburkan diri ke laut untuk menyelamatkan Putri Mandalika. Tetapi sang Putri hilang tanpa ada tanda-tanda sedikitpun.

Tak lama kemudian muncul binatang kecil-kecil yang yang sangat banyak dari laut. Binatang tersebut ternyata sebuah cacing panjang yang kemudian cacing tersebut diberi nama nyale dan dipercaya oleh masyarakat bahwa cacing tersebut merupakan jelmaan Putri Mandalika.

Hingga dikemudian hari berkembang sebuah upacara adat Nyale yang menjadi tradisi masyarakat Lombok. Tradisi ini dilakukan setahun sekali pada sekitar bulan Februari – Maret.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dongeng "si Kancil dan Buaya"

Dongeng Anak : Kisah Keledai Bertelinga Panjang

Ciri-ciri Dongeng