Dongeng Nusantara : Legenda Keong Mas

 


Legenda keong mas merupakan cerita rakyat Indonesia yang cukup populer dikalangan masyarakat. Bahkan karena kepopulerannya, legenda yang satu ini telah diabadikan dalam berbagai buku cerita anak. Selain itu, legenda keong mas juga diketahui telah diterjemahkan kedalam beberapa bahasa asing dan ditampilkan dalam pentas seni theater.

Legenda Keong Mas

Dahulu kala, terdapat sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Daha. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana, namanya Raja Kertamarta. Raja memiliki dua orang putri menawan. Putri pertamanya bernama Dewi Galuh, sedangkan adiknya bernama Candra Kirana.

Berbeda dengan Dewi Galuh, Candra Kirana sudah memiliki tunangan. Sang tunangan merupakan putra mahkota Kahuripan, yang bernama Inu Kertapatih. Suatu hari, ia mengunjungi Kerajaan Daha.

"Selamat pagi Raja Kertamarta!" kata Inu Kartapatih

"Oh Pangeran Inu, calon menantuku! Kemarilah, mari masuk!" ujar Raja Kertamarta

Setelah masuk ke dalam istana, mereka akhirnya bertemu dengan Candra Kirana.

"Ah disana rupanya calon istrimu, Candra Kirana. Dia bersama Dewi Galuh" kata Raja Kertamarta sambil menunjuk Candra Kirana.

"Selamat Pagi, Candra Kirana! Selamat Pagi, Dewi Galuh!" sapa Pangeran Inu.

"Selamat pagi Pangeran Inu!" jawab Candra Kirana.

"Uh aku mau ke kamar saja!" kata Dewi Galuh dalam hati sambil beranjak ke kamarnya.

Rasa sombong dan cemburu Dewi Galuh pada Candra Kirana itu membuatnya kesal.

"Euh.. Kenapa? Mengapa Candra Kirana yang selalu beruntung? Aku akan menyingkirkanmu Candra Kirana!" kata Dewi Galuh sambil memukul meja.

Dewi Galuh yang gelap mata akhirnya pergi ke penyihir untuk membantunya menyingkirkan Candra Kirana.

"Apa yang membuat putri kerajaan datang ke sini di malam ini?" kata sang penyihir.

"Saya punya permintaan. Saya ingin kau membantu saya untuk menyingkirkan Candra Kirana. Saya akan memberikan emas sebanyak yang kau inginkan!" kata Dewi Galuh pada penyihir.

"Hahaha" suara penyihir yang tertawa kencang seakan-akan menyetujui permintaan untuk mendapatkan sejumlah emas.

Pada keesokan harinya, Dewi Galuh bertemu dengan Candra Kirana di taman istana. Candra Kirana yang tidak mengetahui perbuatan kakaknya, tampak santai dan bersenandung di taman. Hingga akhirnya ia bertemu dengan sang Kakak.

"Hai Candra Kirana!" kata Dewi Galuh

"Oh hai Kak! Lihat kemari! Ini adalah bunga yang biasa kita tanam" kata Candra Kirana.

Dengan ajaib, sang penyihir jahat muncul di tengah-tengah taman, bersama dengan Dewi Galuh dan Candra Kirana.

"Ah! siapa nenek itu, Kak?" kata Candra Kirana yang ketakutan.

Penyihir yang jahat itu kemudian mengutuk putri Candra Kirana menjadi seekor siput.

"Ku kutuk kau menjadi seekor keong hahahaha!" ujar penyihir jahat sambil mengarahkan tangannya pada Candra Kirana.

Tiba-tiba tubuh Candra Kirana diselimuti asap tebal! Saat asap menghilang, Candra Kirana telah berubah menjadi keong emas.

"Hahahaha… Kutukan ini akan hilang jika kau bertemu tunanganmu! Sebelum itu terjadi, aku singkirkan kamu dulu Aku akan memberitahu pada Papa bahwa kamu telah menghilang hahaha!" kata Dewi Galuh sambil menendang keong mas jelmaan Candra Kirana ke kolam istana.

"Kenapa dia begitu jahat padaku? Apa aku pernah menyakitinya?" tanya Candra Kirana yang bersedih di atas daun teratai.

Candra Kirana yang berubah menjadi Keong Mas pun, terbawa arus sungai menjauhi Kerajaan Daha.

"Kemana sungai ini membawaku pergi? Hiks... hiks...!!!" kata Candra Kirana yang menangis.

Namun karena tubuhnya yang berwarna keemasan, membuat seorang nenek yang berada di tepi sungai untuk mencari ikan, melihat Candra Kirana dan menangkapnya dengan jaring.

"Aaaa!" Teriak Candra Kirana yang ketakutan karena masuk ke perangkap jaring.

"Wow, apa ini? Keongnya berwarna keemasan, belum pernah aku melihat keong seperti ini!" kata nenek tersebut.

Nenek itu kemudian membawa Keong Mas ke rumahnya. Dia merawat Keong Mas di dalam sebuah vas. Keesokan harinya, tanpa disadari sang Nenek, Keong Mas berubah menjadi manusia sampai siang. Nenek itu kemudian kembali ke sungai, tapi malang nasibnya karena tidak ada satu pun ikan yang tertangkap di jalanya.

"Hah... Tak terasa hari sudah siang, namun aku belum menyiapkan makan untuk nanti sore" guman Nenek.

Saat nenek itu kembali ke rumah, betapa terkejutnya dia karena di meja telah disajikan beberapa berbagai makanan lezat.

"Lho siapa yang memasak semua ini? Siapa yang menyiapkannya untukku?" ujar nenek yang heran.

Keesokan paginya, sang nenek kembali ke danau untuk mencari ikan lagi. Kemudian ketika ia kembali, berbagai hidangan juga telah disajikan di meja makan. Nenek yang penasaran, memutuskan untuk pulang lebih awal dari biasanya pada keesokan harinya, ia juga masuk dengan mengendap-endap ke dapurnya.

Terdengar suara seseorang sedang memasak, kemudian nenek tersebut masuk dan dikejutkan oleh seorang gadis menawan yang memasak di dapurnya.

"Hah? Siapa kamu, wahai gadis menawan?" kata nenek pada Candra Kirana.

Kemudian, Candra Kirana menceritakan semuanya kepada nenek itu. Dia juga mengatakan kepadanya bahwa kutukan itu akan hilang jika dia bertemu dengan tunangannya, Pangeran Inu.

"Saya tidak tahu kapan kutukan ini akan berakhir" ujar Canra Kirana yang sedih.

"Sabar, Kirana. Terus berdoa. Semoga doamu terkabul" jawab nenek tersebut.

Sementara itu, di Kerajaan Daha, Pangeran Inu ingin mencari tunangannya. Bahkan dia berpura-pura menjadi seorang rakyat jelata untuk mencari ke seluruh negeri

"Jangan khawatir, Yang Mulia. Saya akan mencari Candra Kirana sampai di seluruh pelosok negeri hingga ketemu" kata Pangeran Inu pada Raja Kertamarta

Ketika Dewi Galuh mendengar Pangeran Inu berniat mencari saudara perempuannya, ia memberi tahu kepada penyihir. Seketika penyihir itu berubah menjadi gagak hitam. Dia terbang mencari Pangeran Inu. Dalam perjalanannya mencari Candra Kirana, Pangeran Inu tiba-tiba dikejutkan dengan datangnya gagak hitam yang bisa berbicara.

"Kiri...ke kiri Ikuti aku" kata gagak itu kepada Pangeran Inu.

"Gagak itu bisa bicara? Mungkin ia bisa menuntunku untuk menemukan Candra Kirana" kata Pangeran Inu.

Kemudian, Pangeran Inu mengikuti burung gagak, yang dia tidak sadari bahwa burung gagak itu adalah jelmaan dari penyihir yang sengaja membuatnya salah jalan. Dalam perjalanannya, Pangeran Inu berhenti ketika melihat lelaki tua itu bersandar di pohon. Dia melihat kakek itu berwajah pucat.

"Kau baik-baik saja? Kakek terlihat pucat sekali" kata Pangeran Inu.

"Aku belum makan selama berhari-hari, anak muda" jawab kakek tersebut.

"Ini dia, kakek bisa makan siangku. Aku bawa cukup untuk diriku sendiri" ujar Pangeran Inu sambil memberikannya sekotak makan siang.

"Ahh, terima kasih, anak muda" kata kakek itu.

Sambil makan, Pangeran Inu menceritakan semuanya kepada kakek tersebut. Pangeran Inu juga menceritakan bahwa ia mengikuti burung gagak hitam yang bisa berbicara. Tanpa diduga, kakek itu mengayunkan tongkatnya ke burung gagak. Gagak itu pun jatuh dan kembali menjadi penyihir!

Ternyata kakek itu juga seorang penyihir. Dia memberi tahu Pangeran Inu bahwa burung gagak itu adalah penjelmaan dari penyihir jahat. Dia juga menyuruh Pangeran Inu untuk mencari Candra Kirana di Desa Dadapan. Sesampainya di Desa Dadapan, Pangeran Inu singgah di sebuah rumah pondok untuk meminta minum. Ketika dia bertanya meminta air, betapa terkejutnya Pangeran Inu.

Rupanya dia singgah di rumah neneknya yang merawat Candra Kirana. Nenek dan Candra Kirana tampak terkejut sekaligus senang melihat Pangeran Inu. Ketika mereka bertemu satu sama lain membuat kutukan menghilang.

Candra Kirana kemudian kembali ke Kerajaan Daha. Ia menceritakan semuanya kepada sang Papa. Karena takut mendapat hukuman, Dewi Galuh melarikan diri dari Kerajaan Daha dan tidak pernah kembali.

Pada akhirnya Candra Kirana dan Pangeran Inu hidup bahagia bersama. Nenek yang merawatnya juga tinggal di istana.

Pesan Moral :

Rasa iri dan dengki hanya dapat merusak pikiran dan karakter individu yang memendamnya. Oleh karena itu, mari hindari sifat-sifat buruk tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dongeng "si Kancil dan Buaya"

Dongeng Anak : Kisah Keledai Bertelinga Panjang

Ciri-ciri Dongeng