Dongeng Nusantara : Legenda Batu Menangis, Kisah Anak Perempuan yang Durhaka

 


Yuk mengajarkan anak untuk menghormati dan menyayangi orang tua dengan cara yang menyenangkan.

Tahukah bunda, ternyata cara mengajarkan nilai-nilai moral kepada sang buah hati bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan, loh. Salah satunya adalah dengan membacakannya dongeng sebelum tidur.

Selain akan membantu sang buah hati untuk lebih tenang, sehingga dapat tidur dengan tepat waktu dan  nyenyak. Membacakan sebuah dongeng kepada sang buah hati juga bisa menjadi media untuk mengajarkan nilai-nilai moral.

Seperti dongeng nusantara yang satu ini, berkisah tentang seorang anak perempuan yang durhaka kepada ibunya. Anak perempuan tersebut akhirnya berubah menjadi batu yang menangis karena menyesali perbuatannya itu. Yuk langsung ke ceritanya!

Legenda Batu Menangis, Kisah Anak Perempuan yang Durhaka

Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang janda tua dan putrinya yang cantik jelita bernama Darmi di sebuah desa terpencil di daerah Kalimantan Barat, Indonesia. Mereka tinggal di sebuah gubuk yang terletak di ujung desa.

Sejak Ayah Darmi meninggal, kehidupan mereka menjadi susah karena sang Ayah tidak meninggalkan harta warisan sedikitpun untuk memenuhi kehidupan Darmi dan Mamanya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, sang Ibu bekerja di sawah atau ladang orang lain sebagai buruh upahan. Sementara Darmi tumbuh menjadi seorang gadis yang manja.

Apapun yang dimintanya harus dikabulkan. Selain manja, Darmi juga seorang gadis yang malas. Ia hanya berdandan dan mengagumi kecantikannya di depan cermin. Setiap sore Darmi selalu berjalan-jalan di kampungnya tanpa tujuan yang jelas, ia hanya memamerkan wajah cantiknya dan sama sekali tidak mau membantu sang Ibu mencari uang di sawah.

Setiap kali Ibu Darmi mengajanya bekerja ke sawah, Darmi pun selalu menolak.

"Nak! Ayo bantu Ibu bekerja di sawah," ajak sang Ibu.

"Tidak mau! Aku tidak mau pergi ke sawah. Nanti kuku dan kulit ku kotor terkena lumpur," jawab Darmi menolak.

"Apakah kamu tidak kasihan melihat Ibu, Nak?" tanya sang Ibu.

"Tidak! Ibu saja yang sudah tua bekerja di sawah, karena tidak mungkin lagi ada laki-laki yang tertarik pada wajahmu yang sudah keriput itu," jawab Darmi dengan ketus.

Mendegar jawaban Darmi, sang Ibu tak bisa berkata-kata. Dengan perasaan sedih, ia pun berangkat ke sawah untuk bekerja. Namun Darmi tetap saja tinggal di gubuk, terus mendandani dirinya agar terlihat cantik. Setelah sang Ibu pulang dari sawah, Darmi meminta uang upah yang diperoleh Ibunya untuk membeli alat-alat kecantikan.

"Mana uang upah itu?" seru Darmi kepada sang Ibu.

"Jangan, Nak! Uang ini untuk membeli kebutuhan hidup kita hari ini," ujar sang Ibu yang memohon.

"Tapi bedakku sudah habis. Aku harus beli yang baru!" kata Darmi.

"Kamu memang anak tidak tahu diri! Tahunya menghabiskan uang, tapi tidak mau bekerja," kata sang Ibu yang kesal.

Walaupun kesal dan marah, sang Ibu tetap memberikan uang upahnya pada Darmi. Hal ini pun terus terjadi, hingga suatu ketika, Darmi meminta lagi uang upah yang diperoleh sang Ibu untuk membeli alat kecantikannya yang lain. Keadaan ini selalu terjadi hampir setiap hari.

Pada suatu hari, sang Ibu hendak ke pasar, dan Darmi berpesan untuk dibelikan sebuah alat kecantikan. Namun, Ibunya tidak tahu alat kecantikan yang ia maksud. Kemudian, Ibunya mengajak Darmi agar ikut ke pasar.

"Kalau begitu, ayo temani Ibu ke pasar!" ajak sang Ibu.

"Aku tidak mau pergi ke pasar bersama Ibu!" jawab Darmi yang menolak ajakan.

"Tapi, Ibu tak tahu alat kecantikan yang kamu maksud itu, Nak!" seru sang Ibu.

Setelah didesak dan dengan perasaan terpaksa, Darmi bersedia menemani Ibunya ke pasar. Namun, dengan satu syarat.

"Aku mau ikut ke pasar, tapi dengan syarat Ibu harus berjalan di belakangku," kata Darmi kepada sang Ibu.

"Memang kenapa, Nak?” tanya sang Ibu.

"Aku malu kepada orang-orang kampung jika berjalan berdampingan dengan Ibu," jawab Darmi dengan ketus.

"Kenapa harus malu, Nak? Bukankah aku ini orangtua kandungmu?" tanya sang Ibu.

"Ibu seharusnya berkaca. Lihat wajah itu yang sudah keriput dan pakaian yang sangat kotor itu! Aku malu punya orangtua yang berantakan seperti itu!” seru Darmi dengan nada merendahkan.

Walaupun sedih, sang Ibu pun menuruti permintaan putrinya.

Setelah itu, berangkatlah mereka ke pasar secara beriringan. Si Darmi berjalan di depan, sedangkan sang Ibu mengikutinya dari berlakang sambil membawa keranjang. Walaupun mereka adalah Ibu dan anak, penampilan mereka kelihatan sangat berbeda. Seolah-olah bukan dari keluarga yang sama. Di tengah perjalanan, Darmi bertemu dengan temannya yang tinggal di kampung lain.

"Eh, Darmi! Mau ke mana kamu?" tanya temannya itu.

"Ke pasar" jawab Darmi dengan pelan.

"Lalu, siapakah orang di belakangmu itu? Apakah dia orangtuamu?" tanya lagi temannya sambil menunjuk Ibunya Darmi yang membawa keranjang.

"Tentu saja bukan Ibuku! Dia adalah pembantuku,” jawab Darmi dengan nada sinis.

Seperti disambar petir sang Ibu mendengar ucapan putrinya itu. Namu, ia hanya terdiam sambil menahan rasa sedih. Setelah itu, keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju ke pasar. Dan kemudian, mereka bertemu kembali dengan seseorang.

"Hei, Darmi! Hendak ke mana kamu?” tanya orang itu.

"Ke pasar," jawab Darmi singkat.

"Siapa yang di belakangmu itu?" tanya lagi orang itu.

"Dia pembantuku," jawab Darmi yang mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

Jawaban yang dilontarkan Darmi tentu membuat Ibunya semakin sedih dan sakit hati. Tetapi, sang Ibu masih kuat untuk menahan rasa sedihnya. Begitulah yang terjadi terus-menerus selama dalam perjalanan menuju ke pasar. Hingga akhirnya, sang Ibu berhenti, lalu duduk di pinggir jalan.

"Bu! Kenapa berhenti?!" tanya Darmi heran.

Beberapa kali Darmi bertanya, namun sang Ibu tetap saja terdiam tidak menjawab pertanyaannya. Sesaat kemudian, Darmi melihat mulut Ibunya yang berbicara perlahan sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas.

"Eh, Ibu sedang apa?" tanya Darmi dengan nada membentak.

Sang Ibu tetap saja tidak menjawab pertanyaan anaknya. Namun, ia berdoa kepada Tuhan agar menghukum anaknya yang durhaka itu.

"Ya, Tuhan! Ampunilah hambamu yang lemah ini. Hamba sudah tidak sanggup lagi menghadapi sikap anak hamba yang durhaka ini. Berikanlah hukuman yang setimpal kepadanya!" ucap doa sang Ibu.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba langit menjadi mendung. Petir menyambar-nyambar dan suara guntur bergemuruh memekakkan telinga. Hujan deras pun turun. Kemudian secara perlahan, kaki Darmi berubah keras dan menjadi batu. Darmi pun mulai panik.

"Ibu...! Ibu... ! Apa yang terjadi dengan kakiku?" tanya Darmi sambil berteriak.

"Maafkan Darmi! Maafkan Darmi! Darmi tidak akan mengulanginya lagi, Bu!" seru Darmi semakin panik.

Namun, apa hendak dibuat, nasi telah menjadi bubur. Hukuman itu tidak dapat lagi dihindari. Perlahan-lahan, seluruh tubuh Darmi berubah menjadi batu. Perubahan itu terjadi dari kaki, badan, hingga ke kepala.

Anak durhaka itu hanya bisa menangis menyesali perbuatannya. Sebelum kepala anaknya berubah menjadi batu, sang Ibu masih melihat air menetes dari kedua mata putrinya. Semua orang yang lewat di tempat itu juga ikut menyaksikan peristiwa itu.

Tak lama kemudian, cuaca kembali terang seperti semula. Namun seluruh tubuh Darmi telah berubah menjadi batu. Batu itu kemudian mereka letakkan di pinggir jalan bersandar ke tebing. Oleh masyarakat setempat, batu itu mereka beri nama Batu Menangis.

Tamat.

Pesan Moral:

Hormati dan sayangilah kedua orang tuamu, karena mereka lah yang telah membesarkan dan menyayangi mu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dongeng Anak : Kisah Keledai Bertelinga Panjang

Dongeng Rusa dan Kura-kura Serta Pesan Moralnya

Dongeng Sebelum Tidur : Putri Berambut Merah dan Burung Berwarna Emas