Dongeng Anak : Hansel dan Gretel

 


Selain membantu anak tidur tepat waktu di malam hari, dongeng juga dapat memelihara imajinasi dan kesejahteraan emosional anak, sambil menghilangkan kekhawatiran dan ketakutan mereka.

Hal ini karena anak-anak tidak dapat mengekspresikan kemarahan, kesedihan, dan rasa kekecewaan mereka kepada orang dewasa. Maka sering sekali anak-anak menggantikan emosi dan agresi alami mereka dengan mengimpersonifikasikan penjahat dalam dongeng.

Nah, sebagai referensi tambahan dongeng kamu, berikut kami telah menyajikan sebuah dongeng yang berjudul Hansel dan Gretel. Yuk kita baca bersama.

Kisah Hansel dan Gretel

Pada zaman dahulu di sebuah desa hiduplah sebuah keluarga bahagia. Mereka mempunyai dua orang anak yang manis, bernama Hansel dan Gretel. Suatu ketika Ibu tercinta meninggal karena sakit. Sejak kematian sang Ibu, Hansel dan Gretel selalu bersedih sepanjang hari. Agar mereka tidak bersedih, sang Ayah mencari Ibu baru untuk menghibur mereka.

Ternyata Ibu baru ini sangat jahat dan memperlakukan mereka dengan buruk. Dari pagi hingga petang Hansel dan Gretel diminta untuk terus bekerja dan hanya diberi makan satu kali dalam sehari.

Musim kemarau pun tiba, dan mereka tidak mempunyai makanan apa-apa. Sang Ibu menyuruh anak-anak untuk kehutan dan berencana untuk meninggalkan mereka di sana. Ayah yang mendengar rencana sang istri sangat terkejut dan memarahi sang istri.

” Bicara apa kau, apa kau ingin anak-anak mati?“ Tanya Ayah.

”Kau ini memang bodoh, kalau kita tidak melakukannya, kita semua akan mati!” Jawab Ibu.

Sementara itu dari balik kamar , Hansel dan Gretel mendengarkan pembicaraan mereka. Mereka ketakutan dan Gretel pun menangis. Akhirnya Ayah tidak bisa berbuat apa-apa karena istrinya terus mendesaknya.

“Ah… apa kita akan mati di hutan?!“ Tanya Gretel.

” Ssst.., aku punya ide bagus, ” ucap Hansel.

Lalu ia keluar rumah dan mengumpulkan batu-batu kecil putih yang bila terkena cahaya bulan, akan bersinar. Pada esok paginya dengan berteriak keras, Ibunya membangunkan Hansel dan Gretel. Sebelum berangkat ia memberikan sepotong roti kepada mereka. Setelah itu semua berangkat menuju hutan.

Sambil berjalan Hansel membuang batu kecil putih satu per satu yang ada dalam kantongnya. Karena berjalan sambil menoleh ke belakang, Ayah menjadi curiga.

”Sedang apa, Hansel?“ Tanya Ayah.

”Aku sedang memandang kucing yang ada di atas rumah,” jawab Hansel berbohong.

Lalu tibalah mereka di tengah hutan. Ayah dan Ibunya pergi ke hutan yang lebih jauh lagi untuk menebang kayu dan meninggalkan mereka.

Rasa sedih pun berganti gembira setelah di tengah hutan Hansel menemukan seekor kupu-kupu dan Gretel membuat kalung dari bunga. Mereka sangat gembira karena bisa bermain-main bersama teman baru mereka seperti kelinci, bajing dan burung-burung kecil.

Tidak terasa waktu pun berlalu, matahari mulai tenggelam dan hari mulai gelap. Suara burung-burung yang indah kini berganti dengan suara angin yang berdesir. Gretel menangis tersedu-sedu karena takut. Hansel yang melihat Gretel ketakutan berusaha menenangkannya,

“Jangan menangis, jika cahaya bulan muncul, kita pasti akan pulang dengan selamat” ucap Hansel.

Tak lama kemudian, dari sela-sela pohon muncullah cahaya bulan yang bersinar dengan terang. Hansel segera mengajak Gretel untuk pulang ke rumah. Hansel memegang tangan Gretel dan menyusuri jalan di hutan tanpa ragu-ragu.

”Kak, bagaimana bisa berjalan tanpa bingung di hutan yang gelap seperti ini?” Tanya Gretel.

“ batu kecil putih yang kujatuhkan ketika kita datang, bersinar karena terkena sinar bulan dan itu akan membawa kita pulang ke rumah.” Jawab Hansel.

Tibalah mereka di rumah, sang Ibu heran melihatnya dan mencari tahu bagaimana mereka bisa sampai di rumah dengan mudah. Ketika ia membuka pintu, ia melihat batu kecil putih yang bersinar. Agar mereka tidak bisa mengumpulkan batu putih itu lagi, Ibu mengunci pintu kamar mereka. Hansel dan Gretel menjadi panik karenanya.

Sebelum tidur mereka berdoa pada Tuhan, meminta perlindungan. Keesokan harinya seperti kemarin, Ibu membangunkan mereka dan membawa mereka ke hutan. Hansel tidak kehabisan akal. Dengan terpaksa ia mencuil-cuil potongan roti dan menjatuhkannya di jalan sambil berjalan.

Tapi malang, jejak yang sudah dIbuatnya susah payah dimakan oleh burung-burung kecil. Sampailah mereka di dalam hutan. Kembali Ayah dan Ibunya meninggalkan mereka dan masuk ke hutan yang lebih jauh. Merekapun bermain-main dengan binatang-binatang di dalam hutan.

Akhirnya malam pun tiba. Ketika cahaya bulan mulai bersinar mereka beranjak pulang. Dengan susah payah dicarinya potongan-potongan roti sebagai petunjuk jalan untuk pulang ke rumah.

”Kak, apa yang telah terjadi dengan potongan-potongan roti itu?” Tanya Gretel.

”Mungkin dimakan oleh burung-burung kecil,” jawab Hansel.

”Uhh.., kalau begitu kita tidak bisa pulang ke rumah.” Ucap Gretel.

Di dalam hutan bergema suara lolongan keras, mendengar lolongan tersebut, mereka berdua amat ketakutan.

“Kak, aku takut, apa kita akan mati?” Tanya Gretel.

”Jangan khawatir dik, Ibu yang ada di surga pasti menolong kita.” Jawab Hansel.

Karena lelah, mereka akhirnya tertidur dengan pulas di bawah pohon. Cahaya matahari pun mulai bersinar dan mengenai wajah mereka. Hansel dan Gretel terbangun dan disambut oleh suara kicauan burung.

Tiba-tiba mereka mencium bau masakan yang lezat. Segera mereka berlari ke arah datangnya bau lezat itu. Seperti mimpi mereka melihat rumah kue, atapnya terbuat dari tart, pintunya terbuat dari coklat, dan dindingnya terbuat dari biskuit.

Cepat-cepat mereka mendekati rumah itu dan memakannya. Tiba-tiba terdengar suara keras yang bergetar.

“Siapa itu, berani memakan rumah kue kesayanganku?” tanya Penyihir.

Muncullah seorang nenek sihir tua dengan wajah menyeramkan serta mata merah yang bersinar, lalu menangkap mereka berdua.

”Hi… Hi…. Hi…. anak-anak yang lezat, sebagai hukuman karena telah memakan rumah kue kesayanganku, aku akan memakan kalian.” Ucap penyihir.

Dengan kasar nenek sihir itu menyeret Hansel masuk ke dalam penjara. Setelah itu ia berkata kepada Gretel,

“Mula-mula aku akan menggemukkan anak laki-laki itu, lalu aku akan memakannya.“ ucap Penyihir.

“Sekarang kau buat makanan yang enak biar makannya banyak!“ tambahnya.

Nenek sihir itu sudah tua sekali dan matanya mulai rabun. Pada saat itu Hansel dan Gretel saling berpegangan tangan memberi semangat supaya mereka tabah.

”Tabahlah Gretel, Ibu yang ada di surga pasti melindungi kita“ ucap Hansel.

Suatu hari nenek mendekati penjara Hansel untuk melihat apakah tubuh Hansel sudah menjadi gemuk atau belum.

“Aku lapar, sudah seberapa gemuk tubuhmu, ayo ulurkan tanganmu!” Perintah Penyihir.

Hansel yang pintar tidak kehilangan akal, ia mengetahui kalau mata nenek sudah rabun segera dikeluarkannya tulang sisa makanan kepada nenek yang rabun lalu nenek memegangnya. Betapa kecewanya nenek karena sedikitpun Hansel tidak bertambah gemuk. Karena kecewa, ia lalu bermaksud untuk memakan Gretel.

Kemudian Gretel disuruh membakar roti. Selagi Gretel menyalakan api di tungku, si nenek mencoba mendorongnya ke nyala api. Untunglah Gretel mengetahui maksud nenek, cepat-cepat ia berbalik pergi ke depan tungku.

“Nek, aku tidak bisa membuka tutup tungku ini.” Tanya Gretel.

Nenek sihir tidak sadar kalau ia sedang diperdaya Gretel, ia pun membuka tutup tungku. Tanpa membuang kesempatan, Gretel mendorong nenek ke tungku.

“Ahh… tolonggg…. panassss!” teriak Penyihir.

Gretel tidak memperdulikan teriakan nenek dan dengan cepat ia menutup pintu tungku, lalu berlari ke arah penjara untuk menolong Hansel.

“Gretel, kau berhasil. Ibu yang di surga telah melindungi kita.” Ucap Hansel.

Ketika akan pergi dari rumah kue tanpa sengaja mereka menemukan banyak harta karun. Setelah itu mereka keluar rumah, tetapi malang jalan itu terpotong oleh sungai besar. Mereka menjadi bingung, saat itu entah dari mana datangnya tiba-tiba muncul seekor angsa cantik.

”Ayo, naiklah ke punggungku, ” ucap Angsa.

Satu per satu angsa itu mengantarkan mereka menyeberang sungai. Setelah sampai, angsa itu menunjukkan jalan bagi mereka berdua dari atas langit. Sampailah mereka di batas hutan. Tanpa mereka ketahui sebenarnya angsa itu adalah Ibu mereka yang ada di surga. Angsa itu kemudian menghilang. Setelah itu muncullah Ayah mereka yang sangat cemas.

“Anak-anakku tersayang, maafkanlah Ayah. Ayah tidak akan meninggalkan kalian lagi“ ucap Ayah.

Lalu Ayah menceritakan kepada mereka bahwa Ibu tiri yang jahat sudah meninggal karena sakit. Akhirnya mereka pun hidup bahagia selamanya.

Tamat.

Bagaimana? Seru bukan ceritanya? Untuk cerita dongeng yang lainnya, kamu dapat mengaksesnya di blogg ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dongeng "si Kancil dan Buaya"

Dongeng Anak : Kisah Keledai Bertelinga Panjang

Ciri-ciri Dongeng