Dongeng Anak: Timun Mas dan Raksasa Hijau

Timun Mas

Pada kesempatan ini kita akan membaca dongeng timum mas dan raksasa. Yuk sama-sama simak ceritanya dibawah ini ya! Dan serap pesan moral yang ada di dalamnya.

Timun Mas dan Raksasa Hijau

Alkisah, hiduplah seorang janda paruh baya yang telah lama tinggal sebatang kara di tengah hutan. Wanita tua itu bernama Mbok Srini.

Sebenarnya ia telah lama menantikan kehadiran seorang anak untuk mengisi hari-hari yang terasa sangat sepi. Namun harapan itu menjadi pupus, karena suaminya telah meninggal dunia.  

Jalan satu-satunya ia hanya dapat mengharapkan sebuah kejaiban terjadi padanya. Tiap hari, tiada henti Mbok Srini selalu berdoa agar bisa diberikan seorang anak untuk menemani hidupnya.

Suatu hari, raksasa hijau (buto ijo) yang kebetulan lewat mendengar doa Mbok Srini. Dengan suaranya yang menggelegar, raksasa itu bertanya, “Hei wanita tua! Apakah kau sungguh-sungguh menginginkan seorang anak?”

Mbok Srini yang sedang khusyuk berdoa tiba-tiba terkejut, tubuhnya menjadi gemetar. Namun karena keinginannya yang tinggi, ia memberanikan diri  untuk menjawab pertanyaan raksasa.

“Ampun, Tuan Raksasa! Jangan memakan ku! Aku masih ingin hidup,” Mbok Srini memohon dengan muka pucat.

“Jangan takut, hai perempuan tua! Aku tidak akan memakanmu. Bukankah kamu menginginkan seorang anak?” tanya raksasa itu.

“Be… benar, Tuan Raksasa!” jawab Mbok Srini dengan gugup.

“Ha… ha… ha… aku bisa mengabulkan keinginanmu dengan mudah, tapi tentu ada syaratnya. Apakah kau bersedia?” tanya si raksasa.

“Baiklah, aku bersedia,” sahut Mbok Srini menjawab walau hatinya takut melihat sosok raksasa yang besar dan seram.

“Peliharalah anak yang kuberikan padamu nanti. Beri ia makan yang banyak supaya gemuk. Aku akan menjemputnya ketika ia telah dewasa,” ucap si raksasa menggelegar.

Tidak ada pilihan lain, Mbok Srini harus menerima syarat tersebut. Raksasa itu memberinya segenggam biji mentimun untuk ditanam.

“Kalau begitu, segera tanam biji timun itu! Nanti kamu akan mendapatkan seorang anak perempuan. Tapi, ingat! Kamu harus menyerahkan anak itu kepadaku saat ia sudah dewasa. Karena anak itu akan kujadikan santapanku,” ujar raksasa itu.

Karena begitu besar keinginannya untuk memiliki anak, tanpa sadar Mbok Srini menjawab, “Baiklah, Raksasa! Aku bersedia menyerahkan anak itu kepadamu.”

Mbok Srini pun mengikuti saran si raksasa untuk menanam biji mentimun yang didapatkanya. Biji itu tumbuh dan berbuah dalam waktu singkat.

Dalam beberapa hari saja, pohon mentium tumbuh dengan subur dan menghasilkan buah yang sangat besar siap untuk dipanen.

Betapa terkejutnya Mbok Srini ketika sedang memetik salah satu mentimun, di hadapannya terdapat bayi perempuan yang cantik.

Sesuai dengan asalnya, akhirnya bayi itu dinamai Timun Mas karena terlahir dari buah mentimun ajaib yang berwarna keemasan.

Timun mas pun dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Tak terasa beberapa tahun telah terlewati, Timun Mas telah tumbuh menjadi sesosok wanita yang sangat cantik dan sehat.

Sesuai perjanjian yang ada, raksasa pun kembali mendatangi kediaman Mbok Srini dan Timun Mas dengan tujuan untuk membawa Timun Mas sebagai menu santapannya.

Karena kasih sayangnya yang begitu besar terhadap Timun Mas, Mbok Srini menjadi tidak rela untuk menyerahkan anak semata wayangnya itu pada raksasa hijau.

Ia pun berusaha keras mencari cara untuk menyelamatkan Timun Mas dan mengingkari janji yang telah disetujuinya dulu agar putrinya tidak jadi santapan raksasa.

"Sabar, aku akan menyerahkannya padamu, tapi apakah kau mau? Tubuhnya masih kecil dan kurus, aku rasa ia belum cukup lezat untuk kau makan,” kata Mbok Srini.

“Ia sedang pergi. Percayalah padaku, kembalilah dua tahun lagi, aku jamin ia sudah gemuk,” jawab Mbok Srini.

Raksasa itu percaya pada perkataan Mbok Srini. “Dua tahun bukanlah waktu yang lama,” pikirnya.

Sepeninggal raksasa, Mbok Srini mencari akal untuk menyelamatkan Timun Mas. Ia juga berdoa supaya Tuhan memberinya jalan keluar.

Suatu malam, Tuhan menjawab doanya. Mbok Srini bermimpi bertemu dengan seorang pertapa di gunung. Pertapa itu menyuruh Timun Mas untuk menemuinya, ia bersedia menolong Timun Mas.

Setelah berhari-hari mendaki, Timun Mas akhirnya mencapai puncak gunung. Ia melihat seorang lelaki tua berambut putih dan berjubah putih.

“Permisi, Kek. Namaku Timun Mas. Ibuku bilang, Kakek akan membantuku melawan raksasa jahat yang hendak menyantapku,” sapa Timun Mas.

“Oh, kau yang bernama Timun Mas? Ya, aku memang mendatangi ibumu lewat mimpi. Cucuku, jika raksasa itu kembali, berlarilah dengan kencang,” pesan si pertapa itu.

“Namun, langkah kaki raksasa hijau itu lebih lebar dari pada langkah kakiku kakek, aku pasti mudah tertangkap,” kata Timun Mas heran.

“Tenang saja cucuku, ambillah empat buah bungkusan kecil ini. Lemparkan satu persatu ketika kau melarikan diri,” jawab pertapa itu dengan tegas.

Tak terasa dua tahun telah berlalu, raksasa hijau pun akhirnya kembali untuk menagih janji mengambil Timun Mas.

Dengan langkah kaki yang penuh semangat dan teriakan menggelegar raksasa itu berkata, “Mbok Srini! Mana anakmu? Aku sudah lapar!”.

“Kumohon, jangan makan dia,” pinta Mbok Srini.

“Enak saja. Kau sudah berjanji, kau tak boleh mengingkarinya!” jawab raksasa. Dengan terpaksa, Mbok Srini membawa Timun Mas menemui raksasa itu.

Untuk menenangkan ibunya yang begitu cemas, Timun Mas membisikkan sesuatu ketelinga Mbok Srini, “Jangan khawatir, Bu.”

Tiba-tiba Timun Mas berlari sekuat tenaga menjauhi raksasa itu. Dengan perasaan yang kesal, raksasa itu akhirnya mengejar Timun Mas.

Ketika raksasa sudah semakin dekat, segera ia membuka bungkusan pertama pemberian kakek pertapa itu, ternyata hanya berisi biji mentimun.

Walaupun awalnya ia merasa bingung, namun ia tetap melakukan perintah si kakek petapa untuk melempari raksasa dengan benda yang telah diberikannya. Keajaiban pun terjadi.

Biji mentimun itu berubah menjadi ladang timun yang buahnya sangat banyak. Langkah raksasa tertahan oleh ladang timun itu.

Dengan susah payah ia harus melewati rintangan dan batang-batang pohon yang meliliti tubuhnya. Namun, raksasa itu begitu kuat akhirnya berhasil meloloskan diri.

Karena hal itu, ia menjadi bertambah marah. Timun Mas pun kembali berlari untuk mengelak dari genggaman tangan raksasa yang berusaha menangkapnya.

Ketika jaraknya dengan raksasa sudah semakin dekat, dengan segera ia membuka bungkusan kedua yang ternyata berisi jarum.

Ketika Timun Mas melemparkan jarum- jarum itu. Tiba-tiba semua jarum berubah menjadi pohon-pohon bambu yang tinggi dan berdaun lebat.

Raksasa kembali terjebak dan harus kembali berusaha keras untuk menerobos pohon-pohon bambu yang runcing itu, sayangnya raksasa kembali lolos.

Pada akhirnya, Timun Mas membuka bungkusan ketiga sambil terus berlari, ia melemparkan bungkusan yang berisi garam. Ajaibnya, garam itu berubah menjadi lautan yang luas.

Karena tubuhnya yang besar, lautan itu tak menjadi penghalang bagi raksasa. Ia berenang melintasi lautan itu, dan berhasil mencapai tepi.

Karena begitu banyak rintangan yang dilaluinya, raksasa mulai merasa lelah. Tapi karena ia begitu tergiur dengan kelezatan daging Timun Mas, ia memutuskan kembali berlari.

Timun Mas mulai merasa cemas, karena raksasa tidak berhenti mengejar dirinya. Bungkusan terakhir adalah harapan satu-satunya. Sambil berdoa, Timun Mas membuka bungkusan keempat yang berisi terasi.

Sekuat tenaga, Timun Mas melemparkan terasi itu ke arah raksasa. Ternyata harapan itu tidak membuatnya kecewa, terasi itu berubah menjadi lautan lumpur yang panas mendidih.

Raksasa yang berlari kencang tak dapat menghentikan langkahnya, ia pun terperosok masuk ke dalam lumpur sambil berteriak dan meronta.

Namun semakin ia meronta, semakin dalam lumpur itu mengisap tubuhnya dan akhirnya seluruh tubuhnya tenggelam ke dalam lumpur panas.

Timun Mas barulah bisa menghentikan langkahnya. Ia lega karena telah berhasil menyelamatkan diri. Dengan perasaan bahagia bercampur dengan rasa lelah, ia bergegas pulang ke rumahnya.

Mbok Srini, yang terus menangis sejak ditinggal oleh Timun Mas, menjadi sangat bahagia melihat kepulangan putrinya.

Mereka berpelukan dan mengucap syukur pada Tuhan atas pertolonganNya. Sejak saat itu, Mbok Srini hidup bahagia bersama Timun Mas.

Pesan Moral:

1. Jangan mudah menyerah.

2. Selalu percaya bahwa tuhan selalu membantu setiap usaha yang kita lakukan.

Demikianlah informasi mengenai dongeng anak Timun Mas dan raksasa beserta pesan moral yang dikandungnya.

Cukup sampai disini dulu cerita dongeng kita hari ini. Di lain waktu, kami akan membagikan cerita dongeng menarik lainnya.

Tentunya pasti mengandung pesan moral yang baik untuk disampaikan ke anak-anak kita. Sampai ketemu di cerita dongeng anak berikutnya.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dongeng Anak : Kisah Keledai Bertelinga Panjang

Dongeng Rusa dan Kura-kura Serta Pesan Moralnya

Dongeng Sebelum Tidur : Putri Berambut Merah dan Burung Berwarna Emas