Legenda Asal Mula Sebutan Irian – Cerita Rakyat Papua

Cerita rakyat merupakan kisah fiktif yang diceritakan secara turun temurun dan tidak memiliki pengarang yang jelas.

Cerita rakyat secara umum terbagi kedalam 6 jenis, yaitu: cerita legenda (asal-usul), cerita fable (cerita tentang hewan), cerita pelipur lara, cerita jenaka (Cerita lucu/ komedi), cerita sage, cerita epos, dan lainnya.

Pada kesempatan ini, kita akan membaca salah satu kisah legenda yang berasal dari daerah paling timur Indonesia, yakni Papua.

Penasaran dengan kisahnya, yuk kita bacakan Legenda Asal Mula Irian untuk buah hati bunda yang tercinta.

Dongeng Legenda Asal Mula Sebutan Irian

Pada zaman dahulu, di Kampung Sopen yang terletak di daerah Biak Barat, hiduplah sebuah keluarga yang memiliki beberapa anak laki-laki. Salah satu anak tersebut bernama Mananamakrdi.

Anak ini selalu di musuhi dan sangat dibenci oleh saudara-saudaranya karena seluruh tubuhnya dipenuhi kudis, sehingga siapa pun tak tahan dengan baunya.

Maka, saudara-saudaranya selalu meminta Mananamakrdi tidur di luar rumah. Jika Mananamakrdi melawan, tak segan-segan saudara-saudaranya akan menendangnya keluar hingga ia merasa kesakitan.

Suatu hari, saudara-saudaranya sudah tak tahan dengan bau kudis itu, mereka pun mengusir Mananamakrdi dari rumah.

Mananamakrdi

Dengan langkah yang lesu, Mananamakrdi berjalan ke arah timur. Sesampai di pantai, diambilnya satu perahu yang tertambat.

Dia pun pergi mengarungi laut luas, hingga pada akhirnya ia menemukan sebuah daratan yang tak lain adalah Pulau Miokbudi yang berada di daerah Biak Timur.

Ia pun menetap di pulai itu, dan membangun gubuk kecil di dalam hutan. Setiap hari ia pergi memangkur sagu untuk mencukupi kebutuhan makannya.

Selain itu, ia juga membuat minuman dari bunga kelapa. Kebetulan di hutan itu terdapat beberapa pohon kelapa yang dapat disadapnya.

Suatu siang, ia amat terkejut, nira di dalam tabungnya telah habis tak bersisa. Mananamakrdi sangat kesal, ketika waktu malam tiba, ia duduk di pelepah daun kelapa untuk menangkap pencurinya.

Hingga larut malam ia menunggu, tetapi pencuri itu belum kunjung datang. Menjelang pagi, dari atas langit terlihat sebuah makhluk memancar sangat terang mendekati pohon kelapa tempat Mananamakrdi bersembunyi.

Makhluk itu kemudian meminum seluruh nira. Saat ia hendak lari, Mananamakrdi berhasil menangkapnya. Makhluk itu pun meronta-rontakan badannya agar terlepas dari genggaman Mananamakrdi.

Namun sayang genggamannya terlalu kuat, maka makhluk itu pun tidak bisa lolos. Sambil berusaha menahan makhluk asing itu, Mananamakrdi pun berkata.

“Siapa kamu?” tanya Mananamakrdi.

“Aku Sampan, si bintang pagi yang menjelang siang. Tolong lepaskan aku, matahari hampir menyingsing,” katanya memohon.

“Sembuhkan dulu kudisku, dan beri aku seorang istri cantik,” pinta Mananamakrdi.

“Sabarlah, di pantai dekat hutan ini tumbuh pohon bitanggur. Jika gadis yang kamu inginkan sedang mandi di pantai, panjatlah pohon bitanggur itu, kemudian lemparkan satu buahnya ke tengah laut. Kelak gadis itu akan menjadi istrimu,” kata Sampan.

Mendengar ucapan makhluk itu, Mananamakrdi langsung percaya dan kemudian berlahan melepaskan Sampan pergi.

Sejak itu, setiap sore Mananamakrdi duduk di bawah pohon bitanggur memperhatikan gadis-gadis yang mandi.

Suatu sore, dilihatnya seorang gadis cantik mandi seorang diri. Gadis itu tak lain adalah Insoraki, putri kepala suku dari Kampung Meokbundi.

Segera dipanjatnya pohon bitanggur. Kulitnya terasa sakit bergesekan dengan pohon bitanggur yang kasar itu. Diambilnya satu buah bitanggur, dan dilemparnya ke laut.

Bitanggur itu terbawa riak air dan mengenai tubuh Insoraki hingga ia merasa terganggu. Dilemparnya buah itu ke tengah laut kembali.

Namun, buah itu kembali terbawa air dan mengenai Insoraki. Kejadian itu berlangsung berulang-ulang hingga Insoraki merasa jengkel dan kemudian ia pun pulang.

Beberapa hari kemudian, Insoraki hamil. Ia pun panik dan pada akhirnya ia memberanikan diri untuk menceritakan pengalaman anehnya di pantai kepada orangtuanya.

Tentu saja orangtuanya tidak percaya. Walau pun dia tidak mengetahui ayah dari anaknya, Isoraki tetap mempertahankan kandungannya.

Beberapa bulan kemudian, Insoraki melahirkan seorang bayi laki-laki. Namun anehnya, anak yang baru lahir itu tidak menangis, melainkan malah tertawa.

Beberapa waktu kemudian, diadakan pesta pemberian nama. Dari hasil acara itu, maka anak itu diberi nama Konori.

Mananamakrdi hadir dalam pesta itu. Saat pesta tarian berlangsung, tiba-tiba Konori berlari dan menggelendot di kaki Mananamakrdi.

“Ayaaah ...,” teriaknya. Semua orang terkejut, sampai membuat pesta tarian sampai terhenti. Karena fakta itu akhirnya, Isoraki dan Mananamakrdi dinikahkan.

Namun karena penyakit kulit yang dideritanya, kepala suku dan penduduk kampung merasa jijik ketika dekat dengan Mananamakrdi.

Pada akhirnya satu per satu penduduk pergi  meninggalkan kampung dengan membawa semua ternak beserta harta benda yang dimilikinya.

Mananamakrdi

Maka kampung itu akhirnya sepi dan hanya menyisakan Mananamakrdi, Insoraki, dan Konori yang tetap bertahan tinggal di desa itu.

Suatu hari, Mananamakrdi mengumpulkan kayu kering, kemudian membakarnya. Insoraki dan Konori heran, dan tiba-tiba saja Mananamakrdi melompat ke dalam api.

Spontan, Insoraki dan Konori menjerit. Namun ajaib, tak lama kemudian Mananamakrdi keluar dari api itu dengan tubuh yang bersih tanpa kudis.

Ia muncul dengan wajah yang sangat tampan,anak dan istrinya pun gembira. Mananamakrdi kemudian menyebut dirinya Masren Koreri yang berarti pria yang suci.

Beberapa lama kemudian, Mananamakrdi terdiam seperti bersemedi, maka secara tiba-tiba tebentuklah sebuah perahu layar.

Ia kemudian mengajak istri dan anaknya berlayar sampai di Mandori, dekat Manokwari. Ketika tiba di pagi-pagi buta, mereka menemukan sebuah pantai.

Mereka pun melihat tanah berbukit-bukit yang amat luas. Semakin siang, tampaklah pegunungan yang amat cantik yang sebelumnya tertutup oleh kabut.

“Ayah ... Irian. Iriaaan,” teriak Konori. Dalam bahasa Biak. Kata  irian memiliki arti panas.

“Hai, Anakku, Inilah tanah nenek moyangmu,” kata Mananamakrdi pada anak semata wayangnya itu.

“Iya, Ayah. Maksud Konori, panas matahari telah menghapus kabut pagi, pemandangan di sini indah sekali,” kata Konori.

Konon, kata penduduk sekitar sejak saat itulah wilayah tersebut disebut dengan nama Irian. Air laut yang membiru, pasirnya yang bersih, bukit-bukit yang menghijau, dan burung cendrawasih yang anggun dan molek membuat daerah Irian tampak begitu indah.

Pesan Moral:

1. Jangan melupakan daerah asalmu, walaupun kamu sudah sukses di daerah lain.

2. Semua cobaan harus dilewati dengan rasa sabar.

3. Jangan pernah menyerah saat menghadapi ujian.

4. Setiap ujian yang dilalui dengan baik akan menghasilkan hal yang baik pula.

5. Jangan pernah putus asa, walaupun banyak orang yang merendahkanmu.

Nah itu dia cerita legenda asal mula nama irian yang berasal dari cerita rakyat Papua, sekian dulu cerita dongeng anak kita kali ini.

Nantikan cerita dongeng yang lebih menarik lagi, tentunya mengandung pesan moral yang bermanfaat dan dapat di sampaikan kepada si kecil. Sampai ketemu!!

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dongeng Anak : Kisah Keledai Bertelinga Panjang

Dongeng Rusa dan Kura-kura Serta Pesan Moralnya

Dongeng Sebelum Tidur : Putri Berambut Merah dan Burung Berwarna Emas