Cerita Rakyat : Joko Kendil

Zaman dahulu kala di sebuah wilayah terpencil yang ada di Jawa Tengah, ada seorang janda miskin. Ia memiliki anak laki – laki yang berbentuk mirip periuk untuk menanak nasi dan disebut kendil. Karena anak laki – laki tersebut berbentuk mirip kendil, maka ia sering dipanggil Joko Kendil.

Meski wujud sang anak yang berbeda dari manusia pada umumnya, namun sang ibu tidak pernah merasa malu atau menyesal. Ia bahkan sangat menyayangi Joko Kendil dengan tulus dan mengajari salat.

Suatu hari, diadakan pesta perkawinan di dekat desanya dan diam – diam Joko Kendil yang masih kecil menyelinap ke dapur. Seorang ibu yang ada di dapur itu memuji keindahan kendil yang dapat menjadi tempat kue dan buah – buahan.

Ibu tersebut tidak tahu bahwa kendil yang ada di dapur itu sebenarnya manusia. Setelah kendil terisi penuh, kendil tersebut tiba – tiba menggelinding keluar. Melihat kejadian tersebut, orang – orang yang berada di dapur dan menyaksikan kejadian tersebut berteriak, “Wow! Kendil Ajaib!”

Mereka pun berebutan minuman khas imlek untuk memiliki kendil Ajaib tersebut. Namun kendil tersebut tidak pernah berhasil tertangkap karena semakin lama ia menggelinding semakin cepat.

Setibanya di rumah, Joko Kendil menceritakan pengalamannya tersebut kepada sang ibu. Ibunya memberi tata cara mandi wajib setelah haid nasehat agar Joko Kendil tidak berbuat seperti itu di kemudian hari meski bukan pencuri, Joko Kendil tetap tidak boleh berbuat seperti itu.
Tahun demi tahun, Joko Kendil semakin tumbuh menjadi anak yang dewasa. Namun tubuhnya tidak pernah berubah yaitu tetap pendek dan seperti kendil.

Hingga tiba di suatu masa ketika teman – teman Joko Kendil menikah, ia pun ingin menikah seperti teman – temannya. Ia pun mengutarakan keinginannya tersebut pada sang ibu. Ibunya bingung menjawab permintaan puteranya tersebut.

Ibunya pun berpikir, “Apa ada yang mau dengan puteranya yang kondisinya seperti itu?”

Ibunya pun menasehati puteranya bahwa mereka hanya orang miskin dan terlebih lagi bentuk tubuh Joko Kendil yang seperti itu membuatnya akan sulit menemukan wanita yang mau menikah dengannya.

Karena terus menerus didesak, ibunya pun bertanya, “Memangnya, wanita seperti apa yang kau inginkan untuk menikahimu?”

Joko Kendil pun menjawab agar dirinya dilamarkan seorang puteri raja. Tentu ibunya sangat shock dan khawatir mereka akan malu dengan keinginan puteranya tersebut.

Karena Joko Kendil tetap memaksa, suatu hari ia dan ibunya pergi ke kediaman Raja untuk melamar puterinya. Raja tersebut memiliki tiga orang puteri yang sangat cantik. Ketiga puteri tersebut bernama Dewi Kantil, Dewi Mawar dan Dewi Melati.

Dengan berhati – hati, ibu Joko Kendil menyampaikan maksud kedatangan mereka ke istana. Tentu Raja sangat terkejut tapi dengan bijaksana ia menanyakan kepada ketiga puterinya.

Dewi Kantil menyatakan tidak mau menikah dengan Joko Kendil yang anak orang miskin. Sementara Dewi Mawar dengan nada sombongnya mengatakan bahwa ia hanya akan menikah dengan putera raja yang tampan.

Sementara Dewi Melati, ia menerima lamaran Joko Kendil. Tentu semua orang terkejut termasuk Raja dan ibu Joko Kendil sendiri. Namun dengan bijak, raja tetap memberikan restu kepada Dewi Melati untuk menikah dengan Joko Kendil.

Tentu Dewi Kantil dan Dewi Mawar tertawa terbahak – bahak dengan pilihan adik bungsunya itu, Dewi Melati. 

Pernikahan tersebut pun berlangsung. Namun di hari yang berbahagia, bukan ucapan selamat yang Dewi Melati dapatkan melainkan ia harus menerima ejekan dari semua tamu yang diundang. Dewi Melati menerima semua ejekan tersebut dengan hati lapang.

Suatu hari, raja mengadakan lomba ketangkasan. Namun Joko Kendil tidak terlihat di dalam lomba tersebut karena sakit. Dewi Melati duduk sendirian. Sementara penonton membahana melihat para pangeran dari berbagai negeri memperlihatkan keahliannya.

Tiba – tiba ketika perlombaan berlangsung, ada seorang pangeran tampan dan gagah memasuki arena. Ia mengenakan pakaian kerajaan yang gemerlap dan menunggang kuda. Ia terlihat sebagai pangeran yang perkasa.

Dewi Kantil dan Dewi Mawar pun menghampirinya dan berusaha menarik perhatian sang pangeran. Dewi Kantil dan Dewi Mawar tak lupa mengejek adiknya di depan pangeran.

“Lihat Dewi Melati, cari suami itu yang seperti ini?” ungkap Dewi Kantil. Dewi Mawar pun menimpalinya dengan kalimat persetujuan.

Tidak tahan dengan ejekan kakak – kakaknya itu, Dewi Melati memutuskan untuk pulang. Di kamar Dewi Melati menangis sejadi – jadinya dengan hinaan sang kakak.

Ia pun bergumam, “Tuhan, mengapa engkau berikan aku takdir seperti ini?”

Di tengah keadaannya yang kalut, seorang pangeran yang tadi didekati kakak – kakaknya di arena perlombaan masuk ke dalam kamar.

Dewi Melati pun tentu menyuruhnya pergi. “Siapa kamu? Pergi dari kamarku?”

Sang pangeran tampan tersebut pun berkata, “Istriku, aku adalah Joko Kendil, suamimu”

Ia melanjutkan bahwa dirinya adalah sosok pangeran yang mendapat kutukan. Kutukan tersebut hanya akan hancur jika ada wanita yang dengan tulus menerimanya dan menikah dengannya meski wujudnya seperti kendil.

Mendengar cerita tersebut, Dewi Melati pun percaya dan memeluk suaminya. Tentu Dewi Kantil dan Dewi Mawar merasa malu dan iri atas keberuntungan yang adiknya dapatkan. Mereka juga menyesal dengan perbuatannya.

Pesan moral cerita rakyat Joko Kendil

Dari kedua kakak Dewi Melati, kita belajar bahwa menjadi manusia jangan memandang remeh atau rendah seseorang hanya karena rupanya yang tidak sempurna atau derajadnya yang berada dibawah kita.

Dari Dewi Melati kita belajar bagaimana mencintai seseorang dengan tulus karena mungkin ketulusan tersebut yang akan mengantarkan kita ke dalam kebahagiaan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dongeng Anak : Kisah Keledai Bertelinga Panjang

Dongeng Sebelum Tidur : Putri Berambut Merah dan Burung Berwarna Emas

Dongeng Rusa dan Kura-kura Serta Pesan Moralnya