Dongeng Nusantara : Legenda Nai Manggale

 



Jika sebelumnya kita telah bercerita tentang asal-usul Danau Maninjau, sebuah cerita rakyat yang berasal dari Pulau Sumatera Barat. Pada kesempatan kali ini, kami akan bercerita tentang legenda Nai Manggale, sebuah cerita rakyat yang berasal dari Sumatera Utara, tepatnya Tapanuli. Apakah kamu sudah pernah mendengar kisahnya sebelumnya? Jika belum, mari kita baca bersama!

Legenda Nai Manggale

Pada zaman dahulu kala di Tapanuli, Sumatera Utara, hiduplah seorang pematung terkenal bernama Datu Panggana. Suatu ketika dia menerima pesanan, ia pun pergi ke hutan untuk mencari kayu yang paling cocok dan diukir sesuai pesanan.

Suatu hari, dia mendapat inspirasi untuk mengukir kayu yang dia temukan. Ia bekerja seharian di bengkel untuk mengukir kayu menjadi sebuah patung wanita cantik. Kemudian, dia meletakkan patung tersebut di depan rumahnya. Tak lama kemudian, seorang pedagang muda lewat dan melihat patung tersebut. Namanya Bao Partigatiga.

Dia sangat terkesan dengan keindahan patung itu. Bao kemudian meletakkan pakaian dan perhiasan yang indah di patung itu.

“Sangat cantik,” katanya pada dirinya sendiri dengan bangga.

Patung itu terlihat seperti manusia sungguhan. Kemudian dia meninggalkan rumah Datu Punggana. Berselang beberapa waktu, seorang pendeta bernama Datu Partoar dan istrinya melewati patung tersebut. Mereka juga merasa terkesima dengan keindahan patung tersebut.

“Saya ingin berdoa kepada Tuhan agar dia hidup seperti orang sungguhan. Saya ingin menjadikannya sebagai putri kita,” kata Datu Partoar kepada istrinya.

Pasangan ini memang belum dikaruniai seorang anak. Para Dewa yang mendengar permohonan pasangan tersebut, ternyata mengabulkan doa Datu Partoar. Seketika, patung tersebut berubah menjadi gadis yang sangat cantik. Datu Partoar dan istrinya kemudian membawa pulang gadis itu pulang. Mereka menamainya Nai Manggale.

Berita tentang kecantikan Nai Manggale menyebar ke seluruh desa. Semua penduduk desa datang ke rumah Datu Partoar untuk melihat Nai Manggale. Diantaranya adalah Datu Panggana dan Bao Partigatiga.

Nai Manggale dengan jujur ​​mengatakan kepada penduduk desa bahwa dia sebenarnya adalah patung yang menjadi wanita yang hidup karena anugerah Tuhan. Datu Panggana mengejar Datu Partoar untuk mengklaim karyanya sendiri dan Bao Partigatiga juga mengklaim hak hidup patung tersebut.

“ Akulah yang mengukirnya dari kayu. Jadi, dia milik ku!,” kata Datu Panggana.

“Dia memakai baju dan perhiasan ku. Jadi, dia seharusnya pergi bersamaku,” kata Bao Partigatiga.

“Ingat, saya mencari nafkah sendiri sebagai manusia. Jadi dia masih di sini,” Datu Partoar juga ikut berargumen.

Ketiga pria itu berdebat. Mereka mengklaim hak memiliki Nai Manggale. Untuk menenangkan mereka, seorang lelaki tua dari desa memberikan solusi. Namanya Aji Bahir.

“Kalian semua mungkin pernah menjalin hubungan dengannya. Datu Panggana, kamu adalah pamannya. Bao Partigatiga, kamu adalah saudaranya. Dan Datu Partoar, kamu adalah ayahnya.” Ketiga pria itu mengikuti saran dari Aji Bahir.

Dan mereka bahagia karena sekarang mereka menjadi keluarga.

Tamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dongeng Anak : Kisah Keledai Bertelinga Panjang

Dongeng Rusa dan Kura-kura Serta Pesan Moralnya

Dongeng Sebelum Tidur : Putri Berambut Merah dan Burung Berwarna Emas