Dongeng Fabel : Kisah Persahabatan Monyet dan Kelinci

 


Bunda tentu setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa hampir semua anak-anak menyukai hewan dan tentu saja ia akan sangat antusias dan merasa senang, jika ia didongengkan cerita mengenai kehidupan hewan-hewan tersebut.

Nah, sebagai referensi dongeng bunda mengenai kehidupan hewan ini. Berikut kami telah merangkum dongeng fabel yang berkisah tentang persahabatan monyet dan kelinci. Selain menarik, dongeng kisah persahabatan monyet dan kelinci ini juga mengandung pesan moral yang baik untuk anak.

Kisah Persahabatan Monyet dan Kelinci

Pada suatu hari, terlihat di pinggir sungai ada seekor monyet dan seekor kelinci. Biasanya kelinci suka mendengar cerita-cerita dari monyet, akan tetapi kelinci sedikit risih dan terganggu dengan kebiasaan buruk monyet yang suka menggaruk-garuk hampir semua bagian tubuhnya ia garuk-garuk.

Dan begitupun sebaliknya, monyet pun suka apabila mengobrol dengan kelinci, akan tetapi monyet merasa terganggu dengan kebiasaan buruk kelinci yang suka mengendus-endus dan suka menggerakan kuping nya kesisi kanan dan kesisi kiri.

Pada akhirnya monyet pun memberanikan diri berkata dengan maksud menegur kelinci.

“Hei kau kelinci, apakah kau bisa menghentikan kebiasaan buruk mu itu?” Ucap Monyet.

“Menghentikan apa monyet?” Tanya Kelinci.

“Berhenti mengendus-endus, berhenti menggerak-gerakan hidung, dan berhenti menggerak-gerakan telinga mu yang panjang itu kelinci…, Betapa buruknya kebiasaan kau kelinci …” Jawab Monyet.

“Hei kau monyet, kau hanya bisa menilai kebiasaan buruk ku saja, bagimana dengan kebiasaan buruk mu? di setiap kita lagi asik ngobrol kau selalu saja menggaruk-garuk. Sungguh sangat buruk kebiasan mu itu monyet.” Jawab Kelinci.

“Kelinci, aku tidak bisa menghentikannya,” ujar Monyet.

“Monyet, aku selalu harus mengendus, menggerakan telinga dan hidung ku.” Ujar Kelinci.

Akhirnya mereka pun saling membalas pembicaraan itu. Monyet pun merasa tidak terima dengan teguran dari kelinci, akhirnya monyet pun menantang kelinci untuk bertanding. Monyet meminta kelinci mulai saat ini dia tidak boleh lagi mengendus-endus dan menggerak-gerakan hidung maupun telinganya lagi. Sama halnya dengan monyet, ia tidak boleh lagi menggaruk-garuk.

Singkat cerita, keesokan harinya mereka berdua pun bertemu kembali di pinggir sungai ditempat biasanya mereka berdua bertemu. Mereka berdua sedang menjalankan tantangan yang susah, monyet tidak boleh menggaruk-garuk lagi, begitupun kelinci tidak boleh mengendus-endus, atau menggerak-gerakan hidung maupun telinganya

Akhirnya sesuai dengan hasil keputusan mereka berdua, kelinci dan monyet pun hanya duduk terdiam saja. Monyet tetap diam menahan rasa ingin menggaruk merasakan kulitnya yang sangat gatal, ia ingin menggaruk dagunya, dan lengan kiri maupun lengan kanannya. Semua terasa sangat gatal. Akan tetapi monyet tetap mencoba bertahan dan tetap terdiam.

Sama halnya dengan kelinci, ia pun sedang berusaha menahan kebiasaan buruknya itu. Sebenarnya Ia ingin sekali mengendus-enduskan hidungnya serta menggerakan kupingnya, akan tetapi ia tetap terlihat duduk diam.

“Monyet, aku punya ide, Kita duduk diam di sini sudah sangat lama, dan aku pun sudah mulai bosan. Bagaimana kalau kita mengobrol dan bercerita untuk menghabiskan waktu.” Kata kelinci.

“Itu adalah ide yang sangat bagus kelinci, silahkan kelinci kau bercerita terlebih dahulu ” Kata si monyet.

Si kelinci pun mulai bercerita.

“Monyet, saat kemarin aku akan datang kesini untuk menemui mu, aku mencium seperti ada singa di balik rerumputan. Oleh karena itu, aku pun mengendus-endus udara, tetapi singa itu tidak ada disana.” Ujar Kelinci.

“Akan tetapi aku belum yakin di balik rumput itu tidak ada singa, Nah untuk memastikannya aku pun menggerakan hidung ku beberapa kali, tapi tidak ada bau singa disana. Kemudian aku menggerak-gerakan telinga ku ke kiri dan kekanan untuk mendengarkan, tetapi memang tidak ada singa di sana. Dan akhirnya aku pun yakin bahwa di balik rumput itu memang tidak ada singa. Kemudian akupun melanjutkan perjalanan ke sini untuk menemuimu temanku.” Lanjut Kelici.

Simonyet pun mendengarkan cerita kelinci itu yang bercerita sambil menggerak-gerakan hidung dan telinganya. Kemudian si monyet pun mulai bercerita.

“temanku, kemarin pun sama. Saat aku akan menemuimu disini di tengah jalan aku berpapasan dengan beberapa anak-anak, mereka jahil sekali kepadaku kelinci. Pertama salah satu diantara mereka melemparkan kelapa dan mengenai kepalaku tepat disini, dan anak satunya melemparkan batok kelapa dan tepat sekali mengenai daguku disini kelinci.” Ucap Monyet.

“Dan dua anak perempuan itu melempar ku dengan batok kelapa juga tepat mengenai tangan kiri dan tangan kanan ku. Kemudian akupun lari secepat-cepatnya ke tepi sungai ini untuk menemui mu sahabat ku.” Lanjut Monyet.

Kelinci pun mendengarkan dan melihat gerakan monyet saat bercerita. Dan kancil pun tertawa cekikikan, monyet yang menyadarinya pun ikut tertawa lebar. Sebenarnya kelinci tahu apa yang dilakukan oleh monyet, dan sebaliknya monyet pun tahu apa yang dilakukan oleh kelinci.

“Ya…ya..ya monyet, cerita mu memang sangat bagus monyet. tapi kau kalah dalam pertandingan ini monyet, karena kau menggeruk saat bercerita.” Kata Kelinci.

“Iya kelinci, cerita mu juga benar-benar bagus sekali. Tetapi saat kau bercerita kau mengendus-endus dan menggerakan telinga mu.” Balas Monyet.

“Aku pikir kita berdua tidak ada yang bisa menghilangkan kebiasan buruk kita ini. Karena aku sendiri tidak bisa menghilangkan kebiasaan ini.” Ucap Kelinci sambil mengendus-endus dan mengerak-gerakan telinganya

“Aku pun begitu kelinci, aku tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruk ini.” Kata Monyet sambil menggaruk-garuk kepala, dagu dan menggeruk tangan kanan maupun kirinya.

Akhirnya keduanya setuju, bahwa kebiasaan buruk mereka berdua susah untuk dihilangkan. Mereka pun setuju untuk tidak merasa terganggu dengan kebiasaan mereka masing-masing.

Pesan Moral :

Tidak ada satu pun makhluk yang hidup di bumi terlahir sempurna, semua disertai dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Namun, sebagai sesama makhluk hidup, kita harus bisa menerima hal tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dongeng "si Kancil dan Buaya"

Dongeng Anak : Kisah Keledai Bertelinga Panjang

Ciri-ciri Dongeng