Cerita Dongeng Negeri Nigeria : Drum Ajaib

 


Ada banyak cara yang bisa para orang tua lakukan untuk membangun kedekatan dengan sang buah hati. Salah satunya ialah dengan cara membacakan dongeng kepada sang buah hati setiap malamnya, menjelang waktu si kecil tidur.

Selain mendekatkan hubungan orang tua dengan anak, dengan membacakan dongeng, para orang tua juga sekaligus membangun kemampuan visualisasi anak, meningkatkan pola fikir anak, hingga membantu anak memahami budaya lain.

Nah, sebagai rekomendasi dongeng kamu, berikut kami telah merangkum dongeng anak yang berasal dari Negeri Nigeria berjudul kisah Drum Ajaib.

Kisah Drum Ajaib

Pada suatu hari, terdapat suatu istana yang dipimpin oleh seorang raja bernama Zane. Raja Zane adalah raja yang sangat kaya di salah satu kerajaan di Afrika. Warga kerajaan itu sangat bahagia dan makmur karena Raja Zane juga dikenal baik dan adil.

Sebagian besar kekayaan Raja Zane berasal dari drum ajaib miliknya. Setiap kali raja memukul drum ini, sejumlah besar makanan lezat akan muncul. Piring-piring penuh makanan mewah tersebar di meja besar dan siap untuk warga kerajaan.

Di negara yang sering dilanda bencana kekeringan dan kelaparan, makanan lezat begitu adalah kekayaan. Kadang Raja Zane menggunakan juga drum itu untuk mencegah peperangan. Pada saat prajurit kerajaan tetangga datang membawa tombak dan siap berperang, Raja Zane biasanya akan menemui mereka. Ia lalu akan memukul drumnya dan piring-piring berisi makanan mewah akan terhidang untuk para prajurid musuh.

Biasanya, para prajurit musuh akan melempar tombak mereka, lalu menyerbu makanan dengan teriakan kegembiraan. Setelah makanan habis, para prajurit berterima kasih kepada Raja Zane dan pertengkaran mereka benar-benar terlupakan.

Banyak orang yang ingin memiliki drum milik Raja Zane. Namun, tak ada yang tahu rahasia drum itu kecuali raja sendiri. Agar drum itu bisa mengeluarkan makanan, ternyata ada syaratnya. Si pemilik tak boleh melangkahi tongkat atau batang pohon yang tergeletak di jalan.

Jika hal itu dilakukan, maka yang keluar bukan makanan, melainkan 300 peri kecil yang marah. Mereka akan memukuli si pemilik dengan tongkat mereka. Itulah sebabnya, raja selalu hati-hati melangkah saat melakukan perjalanan agar drum itu tidak mengeluarkan peri marah dan semuanya berjalan dengan baik.

Suatu pagi, permaisuri Raja Zane membawa putrinya yang masih kecil ke sungai terdekat. Anak itu suka bermain air di sungai. Setelah puas bermain, sang putri keluar dari sungai. Pada saat itu, ada sebutir buah kelapa sawit jatuh ke dekat kakinya. Pada saat yang sama, ada seorang pria yang lewat di dekat pohon kelapa sawit. Ia bernama Dembe.

Dembe adalah pria yang malas dan licik. Ia memerhatikan si putri yang sedang menunjuk ke buah kelapa sawit. Putri itu sangat girang melihat buah kepala sawit itu.

"Pas sekali! Aku lapar setelah bermain air. Aku boleh makan buah pohon palem itu, kan, Bu?” tanyanya pada ibunya.

Sang permaisuri membungkuk mengambilkan buah itu. Ia memeriksa buah itu. Setelah tahu buah itu masih bagus, ia mengupasnya dan memberikannya pada putrinya.

“Cukup satu ya,” katanya.

Dembe yang licik segera mendapat ide. Ia pura pura marah pada permaisuri raja itu.

“Kembalikan buah kelapa sawit itu! Itu milikku! Aku tadi mengambilnya untuk anakku. Tapi buah itu menggelinding ke tepi sungai!” ujar Dembe.

“Tapi aku sudah memakannya,” kata sang putri serba salah.

“Rasanya enak sekali. Maaf, aku tidak tahu kalau buah tadi milikmu!” lanjutnya.

Dembe tetap marah.

“Kau istri raja, tapi mencuri buah milik Dembe miskin seperti aku. Aku akan menghadap raja!” ujar Dembe.

Permaisuri tersenyum sabar dan berkata, 

"Maafkan saya. Mari kita menghadap Raja, Raja Zane akan mengganti kerugianmu,” kata permaisuri.

Mereka lalu menghadap Raja Zane yang duduk di bawah pohon. Anggota dewan kerajaan duduk di sekelilingnya. Dembe kemudian berkata,

"Raja, bukankah mencuri makanan termasuk kejahatan terburuk di negeri ini?” tanya Dembe.

Sang raja mengangguk. Dembe lalu bercerita tentang permaisuri yang mencuri makanan untuk anaknya yang sedang kelaparan.

Raja merasa bersalah. Ia lalu berkata:

“Istriku memang bersalah. Sekarang katakan padaku, apa yang kamu inginkan sebagai gantinya? Ada kambing, ayam, pakaian….”

Tanpa ragu-ragu, Dembe menjawab, “Saya ingin memiliki drum ajaib Raja!”

Raja Zane sangat terkejut. Ia tak menyangka Dembe akan meminta drumnya. Namun, Raja Zane adalah raja yang jujur dan selalu menepati janji. Dengan berat hati, ia menyerahkan drum kesayangannya. Ia lalu kembali ke istananya dengan sedih. Karena terlalu sedih, Raja Zane lupa menceritakan syarat menggunakan drum itu.

Malam itu, anak-anak dan istri Dembe sangat gembira. Dembe mencoba kekuatan ajaib drum itu. Seketika, di depan mereka muncul berbagai macam makanan mewah. Mereka semua makan dengan lahap sampai betul-betul kekenyangan. Istrinya senang karena tak perlu mengumpulkan kayu bakar dan berdiri di atas panci masak.

Selama tiga hari keluarga Dembe tidak melakukan apa-apa selain makan dan tidur. Dembe kemudian ingin memamerkan kekayaannya pada teman temannya. Dia mengirim undangan kepada semua orang yang dikenalnya. Semula, tak banyak tamu yang datang karena mereka tahu Dembe sangat miskin. Tentulah bukan makanan lezat yang dihidangkan.

Namun, mereka sangat terkejut ketika melihat hidangan yang sangat lezat disuguhkan oleh Dembe. Para tamu makan tergesa-gesa, kemudian pergi memberi tahu teman teman lain tentang makanan di rumah Dembe. Betapa bahagianya Dembe! Untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia mulai dihormati. Sementara, raja berharap suatu waktu drumnya akan kembali.

Sekarang, setelah Dembe menjadi kaya, orang-orang kaya lainnya mulai mengundangnya ke rumah mereka. Pada suatu malam, saat ia pulang dari pesta, tanpa sadar ia melangkah ke atas dahan pohon yang tergeletak di jalan. Malam itu, setiba di rumah, ia langsung tidur karena terlalu lelah. 

Keesokan paginya, anak anaknya yang kini gemuk-gemuk, berteriak-teriak minta makan. Dembe segera memukul drum untuk meminta  sarapan. Tiba-tiba, terdengar suara teriakan yang mengerikan. Ternyata ketika ia memukul drum, bukan makanan yang keluar, melainkan 300 peri marah. Peri-peri itu memukuli keluarga Dembe dengan tongkat mereka. Dembe, istri dan anak anaknya sampai mengaduh kesakitan.

Walaupun peri-peri itu lalu menghilang, Dembe dan keluarganya tetap ketakutan. Dembe lalu berkata pada dirinya sendiri,

“Ternyata, semua sihir bagus pada drum ini telah habis. Aku tidak rela kalau hanya keluargaku yang menderita dipukuli para prajurit.” Ujar Dembe.

Dembe itu lalu menyusun rencana. Maka, ia lalu mengundang warga di sekitarnya untuk datang ke pesta yang akan ia adakan.

“Makanan yang dihidangkan di pestaku paling enak dari semua makanan yang ada di negeri ini!” kata Dembe pada warga yang diundangnya.

Berita undangan ini menyebar luas. Pada hari pesta, banyak sekali hewan yang datang. Mereka berbaris panjang sekali menuju tempat Dembe. Mereka semua berharap akan mendapatkan makanan enak. Sambil tersenyum jahat, Dembe menyuruh istri dan anak-anaknya untuk sembunyi di semak-semak yang aman. Ia lalu memukul drum dengan keras, lalu buru-buru sembunyi di bawah bangku.

Kemudian, 300 peri marah muncul dari drum dan mereka langsung memukuli para tamu yang sedang mengantri. Para tamu terkejut. Mereka babak belur dan berlari pulang. Mereka kelaparan dan babak belur.

Setelah kejadian itu, Dembe tidak bisa bebas keluar rumah. Banyak temannya yang marah dan ingin balas dendam padanya. Akhirnya, Dembe pun memutuskan untuk mengembalikan drum itu kepada raja. Betapa leganya Raja karena drum itu memang tak berbahaya jika berada pada tangan makhluk yang tidak bertanggung jawab.

Tamat.

Pesan Moral :

Janganlah berusaha untuk mengambil sesuatu yang bukan milik kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dongeng "si Kancil dan Buaya"

Dongeng Anak : Kisah Keledai Bertelinga Panjang

Ciri-ciri Dongeng