Kisah Aladin dan Lampu Ajaib, Legenda dari Irak

Kisah Aladin dan Lampu Ajaib, Legenda dari Irak

 Aladin merupakan sebuah dongeng yang berasal dari daerah Timur Tengah pada abad ke-18. Dongeng anak yang satu ini termasuk salah satu cerita dalam seribu malam.

Sanking terkenalnya, cerita ini telah ditayangkan sebagai salah satu serial film Disney pada tahun 2000-an. Tapi tak ada salahnya juga untuk membacakan kembali cerita ini sebagai pengantar tidur.

Aladin dan Lampu Ajaib

Dahulu kala, di Kota Persia, hiduplah seorang ibu yang tinggal bersama anak laki-lakinya yang bernama Aladin. Mereka hidup miskin di sebuah gubuk yang tua.

Suatu hari, datang seorang laki-laki mendekati Aladin yang sedang bermain. Laki-laki itu mengaku sebagai paman Aladin.

Laki-laki itu mengajak Aladin pergi ke luar kota untuk membantunya. Ibu Aladin mengizinkan Aladin pergi dengan harapan akan mendapatkan uang yang banyak.

Jalan yang ditempuh sangat jauh. Aladin mengeluh kecapaian kepada pamannya. Tetapi, ia justru dibentak dan disuruh untuk mencari kayu bakar. Kalau tidak mau, Aladin akan dibunuhnya.

Aladin akhirnya mengetahui bahwa laki-laki itu bukan pamannya, melainkan seorang penyihir. Penyihir itu kemudian menyalakan api dengan kayu bakar dan mulai mengucapkan mantra.

“Kraak…,” tiba-tiba tanah di hadapan mereka terbelah, tampaklah lorong seperti gua dan tangga untuk menuju ke dasarnya.

“Ayo turun! Ambilkan aku lampu tua di dasar gua itu!” perintah penyihir kepada Aladin.

“Tidak, aku takut turun ke sana,” jawab Aladin.

Penyihir itu kemudian mengeluarkan sebuah cincin dan memberikannya kepada Aladin. “Ini adalah cincin ajaib, cincin ini akan melindungimu,” kata si penyihir.

Akhirnya, Aladin menuruni tangga itu dengan perasaan takut. Setelah sampai di dasar, ia menemukan pohon-pohon berbuah permata.

Buah permata dan lampu yang ada di situ dibawanya. Saat ia hendak menaiki tangga menuju ke atas, pintu lubang sudah tertutup sebagian.

“Cepat berikan lampunya!” seru penyihir.

“Tidak. Lampu ini akan kuberikan setelah aku keluar,” jawab Aladin.

Setelah berdebat, si penyihir menjadi marah dan akhirnya, “Brakk…,” pintu lubang ditutup oleh penyihir.

Ia meninggalkan Aladin yang terkurung di dalam lubang bawah tanah. Aladin menjadi sedih dan ketakutan, ia pun hanya bisa duduk termenung.

“Aku lapar, Aku ingin bertemu Ibu. Tuhan, tolonglah aku!” ucap Aladin.

Aladin merapatkan kedua tangannya dan tanpa sadar jari-jarinya mengusap pinggiran lampu. Tiba-tiba, sekelilingnya menjadi merah dan muncullah asap yang membubung tinggi.

Bersamaan dengan itu, muncul jin raksasa dari dalam lampu. Melihat rupa jin yang tiba-tiba berada didepannya membuat Aladin menjadi tambah ketakutan

“Maafkan saya karena telah mengagetkan Tuan. Saya adalah jin lampu ajaib,” kata jin raksasa itu.

“Oh, kalau begitu bawalah aku pulang ke rumah,” kata Aladin.

“Balk Tuan, naiklah ke punggungku! Kita akan segera pergi dari sini,” ujar jin lampu ajaib. Dalam waktu singkat, Aladin sudah sampai di depan rumahnya.

“Kalau Tuan memerlukan saya lagi, panggillah dengan menggosok lampu ini,” kata jin.

Sejak saat itu, hidup Aladin dan ibunya semakin membaik. Mereka tidak lagi miskin dan tidak pernah kekurangan makanan, Aladin bisa mencari pekerjaan dengan bantuan jin lampu ajaib.

Pesan Moral:

1. Tidak semua hal bisa di dapat dengan mudah, butuh keberanian dan kerja keras

2. Jangan pernah menyerah dan putus asa dengan segala tantangan

3. Setiap usaha pasti akan membawakan hasil

Itulah cerita singkat Aladin yang menemukan lampu ajaib. Sampai jumpa dicerita dongeng-dongeng berikutnya ya adik-adik, dan jangan lupa juga dengan pesan moral yang baru saja kita pelajari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dongeng Anak : Kisah Keledai Bertelinga Panjang

Dongeng Rusa dan Kura-kura Serta Pesan Moralnya

Dongeng Sebelum Tidur : Putri Berambut Merah dan Burung Berwarna Emas