Asal Mula Selat Bali – Cerita Rakyat Bali

Selat Bali adalah selat yang memisahkan antara Pulau Jawa (di sebelah barat) dengan Pulau Bali (di sebelah timur).

Sekarang ini, Selat Bali dapat dilewati dengan menggunakan layanan kapal Ferry dari Pelabuhan Gilimanuk (di Bali) dan Pelabuhan Ketapang (di Jawa).

Asal mula terbentuknya selat Bali sering dikaitkan dengan cerita rakyat, yakni yang sering dikenal dengan kisah salah satu tokoh yang bernama Manik Angkeran.

Pada kesempatan ini kita akan membaca cerita rakyat yang satu ini. Simak kisahnya ya teman! Serta serap juga pesan moral yang dikandungnya!

Manik Angkeran, Asal Mula Selat Bali – Cerita Rakyat Bali

Asal Mula Selat Bali –
Dahulu kala, tinggal keluarga yang sangat kaya di Bali. Keluarga itu tinggal di sebuah kerajaan yang bernama Doha yang berada di daerah Bali, dan pada saat itu Pulau Bali belum berpisah dengan Pulau Jawa.

Pemilik istana ini merupakan Sidi Mantra yang sangat terkenal karena kekuatan gaibnya. Dia hidup bahagia bersama istri dan satu-satunya anaknya yakni Manik Angkeran.

Manik Angkeran merupakan anak yang cerdas, namun sayangnya ia tak punya pendirian dan sangat mudah untuk terpengaruh dengan teman-temannya.

Cerita Rakyat Bali

Selain itu, Manik Angkeran merupakan putra yang manja dan memiliki kebiasaan buruk yakni suka berjudi.

Suatu hari, Manik Angkeran melihat orang-orang yang sedang berjudi dan menyabung ayam, ia amat tertarik.

“Wah, tak perlu bekerja keras untuk bisa kaya. Cukup bermodalkan seekor ayam saja!” pikirnya. Ia lalu pulang dan memecahkan celengannya untuk membeli seekor ayam jago yang besar dan kuat.

“Ayam ini pasti akan menghasilkan banyak uang untukku,” katanya senang. Keesokan harinya, Manik Angkeran mulai menyabung ayam.

Ternyata benar, ayamnya selalu menang sehingga ia mendapatkan banyak uang. Manik Angkeran puas sekali. Esok ia akan kembali lagi menyabung ayamnya. “Jika begini terus, aku bisa cepat kaya,” pikirnya.

Ternyata hari-hari berikutnya tidak berjalan sesuai dengan harapannya. Pada hari kedua dan seterusnya, ayamnya mulai sering kalah ditambah lagi banyak ayam-ayam baru yang muncul di arena sabung ayam.

Ia bahkan menjadi harus berhutang untuk membayar kekalahannya. Namun hal itu tidak membuatnya menjadi jera, ia malah semakin sering berjudi dan menyabung ayam.

Lama-kelamaan, karena ia sudah tidak punya uang lagi dan sudah terlilit banyak utang, maka Manik Angkeran berbuat nekat dengan mencuri harta ayahnya.

Sidhimantra yang mengetahui hal itu berkata, “Anakku, berjudi tak akan bisa membuatmu kaya, justru akan membuatmu miskin. Berhentilah selagi belum terlambat.”

Namun Manik Angkeran tidak peduli. Lambat laun, harta ayahnya pun habis untuk membayar utang anak semata wayangnya itu.

Suatu hari Manik Angkeran menemui ayahnya sambil merengek, “Ayah, tolonglah aku. Mereka akan membunuhku jika aku tak membayar hutang.”

Ayahnya menghela napas, karena seluruh harta yang mereka punya sudah tak bersisa. “Apa yang harus kulakukan untuk menolong anakku?” pikirnya. Ia tak mau anak kesayangannya itu mati sia-sia.

Sidhimantra berdoa memohon petunjuk pada Dewata. “Temuilah Naga Besukih di Gunung Agung. Mintalah sedikit hartanya untuk membayar utang-utang anakmu,” tiba-tiba terdengar bisikan gaib.

Sidhimantra pun segera bergegas menuju Gunung Agung untuk bertemu dengan Naga Besukih dan meminta bantuan kepadanya.

Sesampainya di Gunung Agung, Sidhimantra membunyikan genta seperti petunjuk dalam mimpinya. Naga Besukih yang mendengarnya pun keluar.

“Siapa kau? Apa maksud kedatanganmu?” tanya Naga Besukih.

“Aku Sidhimantra. Maksud kedatanganku adalah untuk meminta bantuanmu membayar utang-utang anakku, Manik Angkeran. Hartaku sudah ia habiskan. Anakku akan dibunuh jika tidak melunasi utang-utangnya,” jawab Sidhimantra.

Setelah berpikir sejenak, Naga Besukih menyanggupi permintaan Sidhimantra. Ia masuk ke dalam guanya dan keluar dengan membawa sejumlah emas dan batu permata.

Sidhimantra mengucapkan banyak terima kasih dan segera berpamitan pulang. Sesampainya dirumah Sidhimantra menyerahkan semua harta yang didapatkannya itu pada anaknya.

“Pergilah anakku dan lunasilah semua hutangmu. Kini kau bisa memulai hidup baru,” kata Sidhimantra. Namun perkataan ayahnya itu tidak dijalankannya, Manik Angkeran malah menggunakan harta itu untuk kembali berjudi.

Ia terus berjudi sampai harta itu terkuras habis, lebih parahnya ia kembali berhutang untuk membayar kekalahannya dan kembali dikejar-kejar orang.

“Maaf Ayah, uang yang Ayah berikan padaku sudah habis. Kini aku berhutang lagi, bahkan dalam jumlah yang Iebih besar,” rengek Manik Angkeran lagi pada ayahnya.

 “Aku tak bisa menolongmu lagi. Aku sudah berusaha menolongmu, tapi kau malah melukai perasaanku dan menodai kepercayaan ku pada mu,” kata Sidhimantra sambil menahan marah.

Manik Angkeran mulai kebingungan, ia sudah tidak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa lagi. Saat melamun, tiba-tiba matanya terpaku pada sebuah genta kecil.

“Genta? Untuk apa genta ini? Apakah genta ini laku dijual?” tanyanya dalam hati. Tanpa pikir panjang, Manik Angkeran membawa genta itu ke pasar.

Di sana ia bertemu temannya, kemudian ia menunjukkan genta itu padanya. “Manik, aku dengar genta ini adalah genta ajaib. Genta ini digunakan untuk memanggil Naga Besukih yang tinggal di Gunung Agung. Barangkali ayahmu telah menemui Naga Besukih untuk meminta harta?” tanya temannya.

“Hmm… benar juga, pasti ayah mendapat harta itu dari Naga Besukih,” kata Manik Angkeran. Manik Angkeran tak mau menyia-siakan kesempatan itu.

Ia segera mendaki Gunung Agung sambil membunyikan genta ajaib itu. Tidak beberapa lama kemudian, Naga Besukih menemui Manik Angkeran.

“Maaf Naga Besukih. Namaku Manik Angkeran, putra dari Sidhimantra. Bisakah aku meminta sedikit hartamu lagi untuk melunasi hutangku?” tanya Manik Angkeran.

“Banyak sekali utangmu? Tapi baiklah, untuk terakhir kalinya, aku akan memberimu sedikit harta. Setelah ini, kau tak boleh kesini lagi untuk meminta harta,” jawab Naga Besukih.

Kemudian Naga Besukih kembali pergi mengambil hartanya di dalam gua. Namun tanpa ia sadari, Manik Angkeran mengikutinya.

Setelah sampai, betapa takjubnya Manik Angkeran, dalam gua itu ternyata terdapat setumpuk emas dan permata. Karena melihat semua itu, timbulah niat jahat di benaknya.

Ia ingin membunuh Naga Besukih dan menguasai hartanya, kemudian ia menghunuskan pedangnya dan menyabetkannya ke arah tubuh Naga Besukih.

Asal Mula Selat Bali

Alhasil Naga Besukih menjadi terluka, la tidak menyangka kalau Manik Angkeran memiliki niat untuk membunuhnya.

Naga Besukih sangat marah dan menyemburkan api yang besar dari mulutnya, sampai membuat Manik Angkeran menjadi ketakutan.

Kemudian ia berusaha lari dengan sekuat tenaga agar dapat menjauh dari naga yang sedang ngamuk itu. Namun Naga Besukih dengan mudah menangkapnya.

Manik Angkeran pun terbakar api yang keluar dari mulut Naga Besukih, sehingga seluruh tubuhnya berubah menjadi abu.

Sementara itu, Sidhimantra yang kehilangan gentanya, menyusul ke Gunung Agung. Ia yakin bahwa Manik Angkeran yang mencurinya.

Sesampainya di Gunung Agung, Sidhimantra melihat tubuh anaknya yang telah menjadi abu. Dilihatnya Naga Besukih menggeliat-geliatkan tubuhnya dan mulutnya terus menyemburkan api.

“Apa yang terjadi pada anakku?” ratap Sidhimantra. Naga Besukih menceritakan semuanya pada Sidhimantra.

“Wahai Naga Besukih yang baik, sudikah kau menghidupkan putraku lagi? Berilah ia kesempatan untuk memperbaiki dirinya,” mohon Sidhimantra.

Naga Besukih berpikir sebentar, lalu menjawab “Baiklah. Aku akan menghidupkan putramu lagi. Namun, ia tak boleh pulang denganmu. la harus tinggal di sini dan menjadi muridku. Aku akan mendidiknya agar menjadi orang yang baik dan berilmu.”

“Apa pun yang kau lakukan, asal itu membuat anakku menjadi orang yang baik, maka lakukan lah,” jawab Sidhimantra.

Dengan kesaktiannya, Naga Besukih menghidupkan kembali Manik Angkeran. “Ampuni aku Ayah, ampuni aku Naga Besukih. Aku berjanji tidak akan mengulangi lagi semua kelakuan burukku,” kata Manik Angkeran.

“Kami mengampunimu, anakku. Tapi kau tak bisa pulang bersama Ayah, kau harus memulai hidup baru di sini bersama Naga Besukih, ia akan mendidikmu agar menjadi orang yang lebih berguna,” jawab Sidhimantra.

Kemudian Sidhimantra mengeluarkan tongkat dan membuat garis yang memisahkan dirinya dengan anaknya. Ajaib, tiba-tiba dari garis itu keluar air yang makin lama makin deras.

Gunung Agung pun terpisah dari sekitarnya. Maka genangan air itulah yang kemudian dikenal dengan sebutan Selat Bali, yang telah memisahkan Pulau Bali dari Pulau Jawa.

Pesan moral:

1. Jangan menjadi orang yang serakah dan tamak, karena perilaku tersebut dapat menjerumuskan kamu kedalam masalah besar.

2. Selalu patuhi nasihat orang tua, karena setiap perkataannya akan membawa kebaikan untuk hidup anaknya.

3. Hindari bermain judi atau pun permainan yang menggunakan taruhan, karena itu hanya dapat membuat kamu menjadi miskin dan terlilit hutang.

4. Dimana pun kalian berada, gunakan selalu sikap hormat kepada tuan rumah.

5. Bagi para orang tua jangan terlalu sering memanjakan anak, karena dapat membuat mereka menjadi tidak mandiri dan pada akhirnya selalu menyusahkan orang tuanya.

Cukup sampai disini dulu cerita dongeng kita hari ini. Di lain waktu, kami akan membagikan cerita dongeng menarik lainnya.

Tentunya pasti mengandung pesan moral yang baik untuk disampaikan ke anak-anak kita. Sampai ketemu di cerita dongeng anak berikutnya.

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dongeng Anak : Kisah Keledai Bertelinga Panjang

Dongeng Rusa dan Kura-kura Serta Pesan Moralnya

Dongeng Sebelum Tidur : Putri Berambut Merah dan Burung Berwarna Emas